RSS

Novel-novel

1.      Novel Serat Riyanta

Pada novel Serat Riyanta itu bercerita bahwa di kota Surakarta ada seorang yang berbudi luhur, namanya pangeran Notosewojo. Pangeran itu mempunyai putra bernama raden mas Riyanta. Mulai raden mas Riyanta berumur enam tahun, dia ditinggal meninggal oleh bapaknya yaitu Notosewojo. Kemudian dirawat oleh ibunya. Sehingga  raden mas Riyanta sangat disayang oleh ibunya.
Ketika sudah berumur tujuh tahun, raden mas Riyanta di pindahkan ke Semarang. Di Semarang itu raden mas Riyanta ikut pamannya, namanya raden mas Tondowidjojo. Di situ, raden mas Riyanta dididik menjadi seorang yang bagus tingkah lakunya. Ibunyapun menjadi senang sekali karena mempunyai putra satu-satunya yang bagus rupanya juga bagus tingkah lakunya, jadi ibunya mau menuruti semua yang di inginkan oleh raden mas Riyanta.
Sampai umur dua puluh tahun, raden mas Riyanta belum mempunyai cewe yang dicintai. Sehingga ibunya menjadi resah. Jadi ibunya menyuruh raden mas Riyanta mencari perempuan yang akan dijadikan istri. Tetapi raden mas Riyanta belum ingin, lalu mengulur-ulur waktu serta berbicara bahwa belum ada perempuan yang dicintainya. Raden mas Riyanta masih ingin mencari pengalaman hidup.
Waktu itu, raden mas Riyanta bersama raden mas durjat bertemu. Raden mas Durjat mengajak raden mas Riyanta untuk pergi ke alun-alun melihau kumidi Hradu. Disitu malah ada kebakaran menjadikan orang-orang lari utuk menyelamatkan diri. Ketika akan pulang, raden mas Riyanta ditabrak oleh seorang perempuan yang umurnya kira-kira 14 tahun. Anak itu nangis sambil memanggil orang tuanya, karena kasian melihatnya raden mas riyanta kemudian mengantarkannya pulang. Ketika akan diantarkan pulang anak itu malah menghilang, karena sudah bertemu dengan orang tuannya. Namun raden mas Riyanta belum tau nama anak tadi. Raden mas Riyanta mencintai perempuan tadi.
Dari kumidi , raden mas riyanta kemudian pulang ke rumahnya. Dirumah, ibunya malah mau menjodohkan raden mas Riyanta. Karena tidak mau akan perjodohan itu, raden mas Riyanta pergi ke boyolali. Ketika sedikit berkurang dengan masalah perjodohan itu, raden mas Riyanta lalu pulang ke rumah lagi.
Akhirnya, raden mas Riyanta dengan perempuan yang ada di kumidi. Dia adalah raden ajeng Srini. Raden Ajeng Srini itu adalah putrid dari kyai Paramayoga yang pamannya raden mas Riyanta. Raden mas Riyanta senang sekali dengan raden ajeng Srini tetapi raden mas Riyanta tidak berani bilang. Kemudian raden ajeng Srini akan dijodohkan dengan laki-laki dari Rembang. Karena kecewa tentang hal itu, raden mas Riyanta kemudian membuat lukisan yang gambarnya raden ajeng Srini.
Ibunya raden mas Riyanta lalu pergi ke rumahnya kyai Pramayoga, gunannya mau bertanya tentang hal perjodohan itu. Tapi uneg-uneg itu tidak benar, kemudian ibunya raden mas Riyanta melamar raden ajeng Srini. Tidak lama kemudian raden mas Riyanta dan raden ajeng Srini menikah.

2.      Novel Carang-Carang Garing dening Tiwiek, AS

Disuatu desa terdapat sebuah keluarga dengan kehidupan yang sangat memprihatinkan. Suatu hari Darmini bertemu seorang mandor bernama Bambang yang saat itu sedang membangun sebuah bangunan disekitar rumah Darmini, lama kelamaan mereka semakin dekat, akan tetapi Bambang mempunyai tujuan lain yaitu membohongi Darmini, Darminipun terkena bujuk rayuan Bambang dan mau untuk “melayani” kemauan Bambang. Hingga akhirnya Darmini. Darmini bertemu temannya dan berkata bahwa dia melihat Bambang di suatu kota yang jauh dari desa. Darmini  pertanggung jawaban Bambang malah mau mengakuinya perbuatannya.
Beberapa jam hari kemudian Darmini mengalami keguguran, sementara kandungan Tutik malah tambah sehat. Suatu hari Darmini melihat salah satu keluarganya ( bulik Sumi ) yang pulang dari merantau di Kota Surabaya dengan berlimpahan harta. Darmini mempunyai niat untuk ikut bekerja. Setelah sampai dirumah Sumi Darmini terheran-heran akan kemegahan rumah Sumi. saat itu dijelaskannya semua tentang pekerjaan Sumi yang tidak lain sebagai germo ( orang yang menjual wanita ). Suatu hari Darmini mendapat “pelanggan” seorang pemborong yang cirri-cirinya sama dengan Bambang. Darmini masih mempunyai rasa dendam sehingga membunuh Bambang dan mengambil semua uangnya.
Suyatman mencari ide untuk membunuh Wawan. Setelah menjalakan aksinya Suyatman langsung pergi. Tutik dan Heri langsung mencari Wawan, tapi tidak ketemu. Tutik menuju ke kolam tempat anaknya bermain, tidak disangka didalam kolam terdapat Wawan yang sudah tenggelam dan meninggal.
Malam setelah kematian sewaktu Suyatman dan sekeluarga sedang tertidur pulas terdengar anak kecil dari luar memanggil nama Suyatman. Suyatman langsung terbangun dan mengecek keluar pintu. Suyatman langsung kaget ketika melihat sesosok anak kecil seumuran. Suara anak kecil itu terus menerus memanggil nama Suyatman agar bertanggung jawab atas perbuatannya, Darminah terkejut. Suyatman akhirnya mengakui kejahatannya. Keesokan mempertanggungjawabkannya.


3. Novel “Kumandanging Katresnan”, dening Any Asmara

Pada suatu hari pemuda bernama R. Sukmana yang berumur 19 tahun, merupakan murid M.U.L.O. mempunyai teman bernama R. A. Tien Tisnowati putri solo asli, anaknya R.B. Djajengsubroto pensiunan Wedana Bajalali. Rumahnya di desa Tamtaman, masih ikut darah priyayi luhur keturunan ningrat. Kenalnya R. Sukmana dengan R.A. Tien Tisnowati sudah lama sekali. Dahulu kenalnya pemuda pemudi itu hanya lugu saja. Tetapi lama-kelamaan muncul rasa sayang, akan tetapi hubungan itu tidak direstui oleh keluarga R.A Tien Tisnowati. Dikarenakan R.A. Tien Tisnowati merupakan darah luhur, sedangkan R. Sukmana hanya orang biasa, apalagi anaknya janda yang miskin. Kenyataannya oleh ayahnya R.A. Tien Tisnowati sangan tidak setuju dan tidak merelakan apabila R. Sukmana mempersunting putrinya, malah Sukmana sampai diancam apabila berani jalan berdua dengan anaknya akan dipanggilkan polisi, sejak saat itu Sukmana dan Tien Tisnowati pisah. Tidak lama kemudian R.A Tien Tisnowati menulis surat kepada R. Sukmana. R. Sukmana setelah membaca surat itu menjadi sedih banget, yang isinya R.A Tien Tisnowati akan dijodohkan dengan R.M. Purwodirjo setelah membaca itu, merasa dunia menjadi gelap gulita seperti tubuhnya terasa lemes tidak berdaya, sampai-sampai menangis. R. Sukmana setiap hari hanya melamun tidak nafsu makan. Tubuhnya menjadi kurus karena sangat memikirkan R.A Tien Tisnowati. Sudah 3 hari R.A.Tien Tisnowati menjadi pengantin bersama R.M Purwodirjo pada hari kamis pon di Malang, ketika bertemu pengantin R. Sukmana juga perlu datang di luar pagar bersama orang banyak. Akan tetapi ketika melihat pengantin dijejerkan duduk, R. Sukmana tiba-tiba pingsan, maka dari itu digotong orang banyak kerumahnya. Setelah kejadian itu R. Sukaman hanya tetap melamun di rumah.
Melihat ptingkah laku R. Sukmana yang seperti itu ibunya menjadi sangat sedih. Ibunya sudah beberapa kali berbicara kepada anaknya akan tetapi tidak pernah dianggap serius malah di tertawakan saja, ibunya sedih lagi ketika melihat anaknya pikirannya sudah tidak waras sering tertawa sebdiri, lama-lama Sukmana kelakuannya kaya orang gila, suatu sore, ketika R. Ngt. Parto Asamara nama ibunya R. Sukmana lagi membatik di belakang, terkejut mendengar pecahan-pecahan dari kamar Sukmana, R. Ngt Parti Asmara tidak enak hatinya kemudian langsung lari. Seperti apa kagetnya ketika masuk kamar anaknya, melihat R. Sukmana sudah mandi darah di mukanya. Sandinya penuh dengan pecahan kaca lemari yang sudah di pecahkan sebelumnya. R. Ngt Partoasmara menjerit terus menangkap anaknya yang sudah tidak bergerak. Ia kemudian digotong dibaringkan di tempat tidur, tidak lama dokter tiba, lalu memeriksa yang lagi tidak sadar. Akan tetapi Sukmana harus segera dibawa ke rumah sakit, karena dari lukanya sudah mengkhawatirkan, dari kepala, apabila tidak cepat-cepat dapat pertolongan bisa membahayakan jiwanya. Sampai satu bulanR. Sukmana terpaksa ada di rumah sakit, lukanya memang sangat membahayakan  dekat dengan otak, setelah Sukmana sembuh, Sukmana minta sekolah lagi dengan ibunya, ibunya membolehkan Sukmana sekolah lagi ke Jogjakarta untuk sekolah gambar, setelah Sukmana sudah lulus kuliah Sukmana pergi ke Bandung ke rumahnya Manggadmaja yang bekerja menjadi klerk di assisten. Manggandaatmaja itu pribadi sangat baik sampai R. Sukmana dianggap seperti keluarga sendiri. Dia mempunyai putrid bernama Siti Kurniasih berumur 17 tahun, Siti Kurniasih itu sangat cantik. Pertama R. Sukmana tidak mempunyai rasa apa-apa terhadap Siti Kurniasih, tidak lama kemudian R. Sukmana menjadi punya rasa sayang terhadap Siti Kurniasih. Lama-kelamaan dari restu orang tua Siti Kurniasih kemudian dilamar dan dipersunting oleh R. Sukmana. Setelah satu tahun sesudah  perjodohan kemudian diberi momongan laki-laki, diberi nama Sutrisna. Akan tetapi belum selasai perjodohan ketika Sutrisna sedang menginjak umur setengah tahun, Siti Kurniasih lalu meninggal dunia karena penyakit disentri.
Setelah Sukmana dari Bandung Sukmana pergi ke Sarangan, waktu R. Sukmana ke Sarangan, derah karang anyar, Sukmana ketemu R. A. Tien Tismowati, Sukmana kager karena R.A. Tien Tismowati tubuhnya terlihat rusak, seperti tidak terurus, kemudian ketemu Tien Tisnowati menceritakan semuanya kepada Sukmana, sampai selesai ketika Tien Tisnowati cerita, air mata terus mengalir seperti hujan. R. Sukmana juga ikut menangis kemudian cerita R.A. Tien Tisnowati meminta tolong kepada R. Sukmana. Permintaannya yaitu  Tien berbicara kepada R. Sukmana, misal Tien Tisnowati tidak lama lagi akan diambil nyawanya oleh yang pencipta. Maka dari itu sebelum diambil, saya mau pasrah kepada kamu, mau menitip anakku ini, karena dariku tidak ada yang bisa dipercaya untuk merawat anakku ini, saya percaya seratus persen apabila anak saya dirawat oleh kamu bisa menjadi orang pertama karena dididik oleh kamu.

4.     Novel “ngulandara”

Novel Ngulandara bercerita tentang kisah perjalanan seorang pria keturunan ningrat bernama Raden Mas Sutanta yang pergi berkeliling kota hanya karena ingin mencari jati dirinya yang sebenarnya. Raden Mas Sutanta memutuskan pergi dari rumah karena gagal dalam pekerjaanya, dia ingin bangkit dengan usahanya sendiri tanpa bantuan dari kuasa orang tuanya. Raden Mas Sutanta dalam perjalanannya kemudian bertemu seorang Asisten Wedana dari Ngadireja dan bekerja di sana sebagai seorang sopir pribadi dan juga dipercaya untuk merawat kuda kesayangan Raden Bei Asisten Wedana. Bekerja dengan Raden Bei Asisten Wedana memberikanya banyak pelajaran hidup, bahwa seorang manusia itu tidak bisa lepas begitu saja dari bantuan orang lain karena mereka tidak hidup sendiri sehingga membutuhkan bantuan dan dukungan dari semua orang terutama keluarga, teman. Raden Mas Sutanta yang berganti nama menjadi Rapingun, kemudian menaruh hati kepada anak Raden Bei Asisten Wedana yang bernama Raden Ayu Supartinah. Pada suatu hari Raden Mas Tanta menyadari kasalahanya yang kabur dari rumah, sehingga dia memutuskan berhenti dari pekerjaanya sebagai seorang sopir pribadi. Setibanya di daerah asalnya dia mulai merintis pekerjanya kembali 4 dan tidak sengaja bertemu kembali dengan keluarga dari Ngadireja dan kemudian memutuskan untuk melamar anak Raden Bei Asisten Wedana sebagai istrinya. Akhirnya mereka berdua menikah dan hidup bahagia bersama.

5.  Novel Lintang Panjer Rina dening Daniel Tito

Di kota Ngawi, ada seorang laki-laki bernama Harjito, dia mencintai seorang gadis bernama Winarsih. Harjito sangat mencintainya begitu juga Winarsih. Hari kelulusan pun tiba, dengan ketekunan Sumardi memikat hati Winarsih menjadikan Winarsih jatuh cinta dengan Sumardi. Winarsih memilih Sumardi yang mantra bank. Untuk melupakan Winarsih, Harjito berniat untuk bekerja di Jakarta mengadu nasib, Suatu hari Joko mengunjungi rumah Harjito dan bertemu dengan ibunya Harjito. Joko adalah teman akrab Harjito waktu kecil, dia sekarang bekerja di Sumatra sebagai buruh, dan Joko mengajak Harjito untuk ikut bekerja dengan Joko. Dalam perjalanan ke Sumatra Joko bercerita banyak tentang pekerjaan, lingkungan dan kondisi di sana.
            Di Ngawi Winarsih sudah lama menikah dengan Sumardi. Kehidupan yang dijanjikan Sumardi akan hidup bahagia, hanyalah bohong belaka. Lama-kelamaan Winarsih curiga, dan disamping kecurigaan itu di sekolah winarsih mendapat kabar bahwa suaminya itu tiap malem pergi ke tempat judi. Sumardipun ternyata telah korupsi di bank tempat bekerjanya. Suatu hari ada seorang perempuan yang datang ke rumah dengan membawa anak kecil berusia 12 tahun, dia datang untuk menagih uang susu yang 5 bulan belum dikirim oleh Sumardi. Winarsih bertanya padanya dan akhirnya semuanya telah kebongkar, perempuan yang datang itu adalah perempuan yang telah dihamili waktu ia masih SMA, Winarsih pun meminta cerai pada Sumardi dan meminta Sumardi untuk menikahi perempuan yang bernama Warni itu.
            Tidak menyangka suatu hari Winarsih datang mencari Harjito ke Sumatra untuk meminta maaf dan meminta agar bisa hidup bersama seperti apa yang telah direncanakan dahulu. Tetapi hal yang dilakukan Winarsih sia-sia, dia belum bisa menerima kembali Winarsih, akhirnya Winarsih pulang dengan kekecawaan.
            Beberapa bulan kemudian Harjito pulang ke kampong halaman dan pergi ke Yogya guna untuk mendaftar sekolah seni yang sangat diinginkannya dahulu, tetapi musibah menimpanya, ibunya jatuh dari sungai dan kakinya harus diamputasi, keinginannya harus dilupakan.  Di rumah sakit ia bertemu kembali dengan Winarsih, Winarsih yang telah membawa ibunya ke rumah sakit ketika Harjito masih di Yogyakarta. Tidak bisa di sembunyikan perasaan Harjito kepada Winarsih, disitu ia meminta maaf kepada Winarsih dan Winarsihpun memaafkannya. Kemudian mereka berdua menjadi akrab kembali.
  
6.  Novel Pawestri Tanpa Idhentiti ,dening Suparto Brata

      Pawestri itu seorang perempuan yang pintar, rajin, sopan, dan mau bekerja keras, saat itu ia tertangkap polisi ketika berada dikamar hotel. Saat akan ditangkap dia terlihat akan pingsan. Panuluh Brata yang menangani bab itu dan juga karena dimintai bantuan teman bisnisnya yang punya kamar hotel, menjadi mau menolongnya. Pawestri dibela-belain di depan polisi dan diaku menjadi sekretarisnya. Karena tetap akan pingsan sehingga dibawa ke rumah sakit. Dan dilihat-lihat dengan cermat oleh Panuluh Brata,seorang pembisnis daging sapi yang menghendel import dari Australia. Panuluh mau membantu Pawestri yang tanpa identitas itu tulus dari hati karena sedang mendapatkan cobaan. Tetapi anak laki-lakinya tidak menyukai hal itu dan terus mendesak agar Pawestri yang tanpa identittas itu dibawa polisi. 

7.  ASMARA ING SALA ENDAH dening Eny Anggraeni

Kehidupan Mariani juga disebut Rian yang ditemui banyak cobaan menuju hidup yang bahagia. Dimulai dari Nusanta (Santa ) yang sering pergi kerumahnya Jektiningtyas (tyas), yaitu anak dari tantenya Rian. Rian yang jyga ikut tantenya menjadi ikut akrab dengan Santa. Snta danTyas itu berteman sudah lama sekali, sehingga kemana-mana selalu bareng. Tidak menyangka kalau Santa dan Rian sudah mempunyai niat akan hidup bersama, keduanya sama-sama saling mencintai. Begitu juga Tyas ke Santa sangat menyukainya, tapi Santa tidak tahu bahwa Tyas menyukainya.
Selama jalinan cinta antara santa dengan Rian diketahui oleh Tyas. Dia merasa sakit hati dan mencurahkan isi hatinya ke adik pnakannya. Rian dianggap mempermainkan Santa, dia melukan hal itu karena cintanya Santa itu tidak pada dirinya, tapi ke Riana. Rian dibilang tidak bisa membalas budi kebaikan tantenya yang sudah ikut menghidupi dan mendidik Rian, lah malah dibikin kecewa. Dipermainkan begitu hatinya Rian juga merasakan sakit, dia malah pasrah ingin menyusul ibunya mati, tapi tidak jadi karena Santa bisa mendinginkan hatinya. Karena kejadian ini Rian menjadi tidak enak hati dengan Tyas, dia rela menjauhi Santa.
Santa mempunyai teman dekat se-kos namanya Sasmaja, apa saja yang dialami semua diceritakan ke teman dekatnya itu, begitu juga Sasmaja. Santa janji akan memberitahu cewe yang dicintai yaitu Rian ke Samaja. Sedangkan Sasmaja sendiri itu mempunyai pengalaman pernah kehilangan cewe yang dicintai sampai waktu itu, namanya Mamik. Walaupun tidak jelas orangnya sekarang masih mengharapkan. Ketika Santa mengenalkan Rian, Sasmaja kaget dan tidak menyangka, ternyata Rian itu cewe yang selama ini di tunggu dan cintai ‘Mamik Mariani’. Rian juga kaget, tetapi keduanya tidak bisa memendam rasa kecewa juga sedih untuk menjaga perasaannya Santa.
Akhirnya cerita Santa terpaksa menikah dengan Tyas karena permintaan orang tuanya, orang tuanya sudah menduga bahwa mereka berdua sering jalan bareng dan menyangka berpacaran. Dan Rian menikah dengan Sasmaja karena keduanya sama-sama masih mencintai. Sesudah Tyas hamil, ketika akan melahirkan dia meninggal karena penyakit kolera. Sebelum meninggal Tyas bicara ke Rian untuk titip anaknya, dan juga Santa supaya menghidupi anaknya. Santa sedih dan nelangsa hidupnya ditinggal mati istrinya, tapi dia senang membantu memomong dan mengurus bayinya. Tetapi lama kelamaan Sasmaja malah cemburu karena tidak pernag diurusi, walaupun Santa dahulu ya mantan istrinya, lalu menjadi rasa benci, dia pergi dan hidupnya menjadi tidak karuan.Sasmaja yang dulunya dianggap orang yang baik tingkah lakunya karena dia seorang guru, sekarang malah seperti orang gila, main dan mendem menjadi kelakuannya. Rian hatinya teriris, bagaimanapun Sasmaja itu masih istrinya, orang yang dicintai. Santa tidak hanya diam, dia membantu Rian untuk membujuk Samaja supaya kembali menjadi orang yang benar dan mau kembali ke Rian. Sasmaja semakin marah karena Santa mencampuri urusannya. Akhirnya Rian merasa yen dia Salah, cara apa saja dilakukan sendiri tanpa dibantu Santa supaya Sasmaja kembali ke pelukannya lagi. Akhirnya Sasmaja juga sadar dan keduanya melakukan hidup bersama kembali seperti dahulu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Asal Usul Desa Kedokan Sayang

Gendowor seorang pengembala kuda, dia diangkat menjadi Adipati di Tegal. Karena menentang perintah kerajaan ia diberhentikan dari jabatannya. Ia berseteru dengan Bagus Suanda yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda.
Ketika Gendowor datang ke rumah Bagus Suanda tidak dapat bertemu dengan Bagus Suanda karena sedang pergi ke Jawa Barat. Ia hanya bertemu dengan Ayah Bagus Suanda. Kecewa tidak dapat bertemu dengan Bagus Suanda, Ayah Bagus Suanda yang sudah tua itu dipukuli oleh Gendowor. Gendowor mengamuk di rumah Bagus Suanda. Ketika Bagus Suanda pulang ke rumah, mengetahui Ayahnya penuh luka ia marah dan mengejar Gendowor.
Bagus Suanda berhasil mengejar Gendowor, maka terjadilah perkelahian antara kedua orang yang sama-sama sakti. Kejar-mengejar antara keduanya siang dan malam hingga berhari-hari. Setiap daerah yang dilewati oleh pelarian Gendowor menjadi nama-nama desa. Misalnya ketika Gendowor bersembunyi di tepi sungai, di bawah pohon gayam maka tempat itu diberi nama Desa Kaligayam. Lalu berlari ke timur bersembunyi di bawah pohon cangkring maka tempat itu diberi nama Desa Cangkring. Gendowor terus dikejar oleh Bagus Suanda. Untuk menyingkir dari kejaran Bagus Suanda, ia menyusuri sungai kecil atau wangan yang panjang, tempat itu sekarang diberi nama Wangan Dawa dan tempat untuk menyingkir diberi nama Semingkir tempatnya di sebelah utara Wangan Dawa.
Bagus Suanda tidak kenal menyerah, ia tidak akan berhenti sebelum dapat menangkap Gendowor. Hingga akhirnya Bagus Suanda berhasil menemukan Gendowor yang sedang kehausan hendak minum air empang atau blumbang atau Kedokan. Seketika itu pula Bagus Suanda menyerang Gendowor. Perkelahian terjadi cukup seru karena saling mengeluarkan kesaktian masing-masing. Gendowor kalah tak berdaya. Tempat perkelahian itu dinamakan Kedokan Sayang. Mengapa disebut demikian? Sebab di Kedokan tadi sangat disayangkan, seorang Adipati Gendowor minum air di Kedokan dan Sayang pula di Kedokan itu Gendowor kalah. Kudanya yang bernama Kidapati dimakamkan di Pemakaman Seng atau jaratan Kasir, sampai sekarang masih dapat dijumpai makamnya di situ. Lalu di mana makam Kendowor? Sampai sekarang maish misteri. Maka tempat itu di kemudian hari menjadi desa Kedokan Sayang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mahabharata

Mahabharata (Sanskerta: महाभारत) adalah sebuah karya sastra kuno yang berasal dari India. Secara tradisional, penulis Mahabharata adalah Begawan Byasa atau Vyasa. Buku ini terdiri dari delapan belas kitab, maka dinamakan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab). Namun, ada pula yang meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi.
Secara singkat, Mahabharata menceritakan kisah konflik para Pandawa lima dengan saudara sepupu mereka sang seratus Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari. 
Pengaruh dalam budaya
Selain berisi cerita kepahlawanan (wiracarita), Mahabharata juga mengandung nilai-nilai Hindu, mitologi dan berbagai petunjuk lainnya. Oleh sebab itu kisah Mahabharata ini dianggap suci, teristimewa oleh pemeluk agama Hindu. Kisah yang semula ditulis dalam bahasa Sanskerta ini kemudian disalin dalam berbagai bahasa, terutama mengikuti perkembangan peradaban Hindu pada masa lampau di Asia, termasuk di Asia Tenggara.
Di Indonesia, salinan berbagai bagian dari Mahabharata, seperti Adiparwa, Wirataparwa, Bhismaparwa dan mungkin juga beberapa parwa yang lain, diketahui telah digubah dalam bentuk prosa bahasa Kawi (Jawa Kuno) semenjak akhir abad ke-10 Masehi. Yakni pada masa pemerintahan raja Dharmawangsa Teguh (991-1016 M) dari Kadiri. Karena sifatnya itu, bentuk prosa ini dikenal juga sebagai sastra parwa.
Yang terlebih populer dalam masa-masa kemudian adalah penggubahan cerita itu dalam bentuk kakawin, yakni puisi lawas dengan metrum India berbahasa Jawa Kuno. Salah satu yang terkenal ialah kakawin Arjunawiwaha (Arjunawiwāha, perkawinan Arjuna) gubahan mpu Kanwa. Karya yang diduga ditulis antara 1028-1035 M ini (Zoetmulder, 1984) dipersembahkan untuk raja Airlangga dari kerajaan Medang Kamulan, menantu raja Dharmawangsa.
Karya sastra lain yang juga terkenal adalah Kakawin Bharatayuddha, yang digubah oleh mpu Sedah dan belakangan diselesaikan oleh mpu Panuluh (Panaluh). Kakawin ini dipersembahkan bagi Prabu Jayabhaya (1135-1157 M), ditulis pada sekitar akhir masa pemerintahan raja Daha (Kediri) tersebut. Di luar itu, mpu Panuluh juga menulis kakawin Hariwangśa pada masa Jayabaya, dan diperkirakan pula menggubah Gaţotkacāśraya pada masa raja Kertajaya (1194-1222 M) dari Kediri.
Beberapa kakawin lain turunan Mahabharata yang juga penting untuk disebut, di antaranya adalah Kŗşņāyana (karya mpu Triguna) dan Bhomāntaka (pengarang tak dikenal) keduanya dari zaman kerajaan Kediri, dan Pārthayajña (mpu Tanakung) di akhir zaman Majapahit. Salinan naskah-naskah kuno yang tertulis dalam lembar-lembar daun lontar tersebut juga diketahui tersimpan di Bali.
Di samping itu, mahakarya sastra tersebut juga berkembang dan memberikan inspirasi bagi berbagai bentuk budaya dan seni pengungkapan, terutama di Jawa dan Bali, mulai dari seni patung dan seni ukir (relief) pada candi-candi, seni tari, seni lukis hingga seni pertunjukan seperti wayang kulit dan wayang orang. Di dalam masa yang lebih belakangan, kitab Bharatayuddha telah disalin pula oleh pujangga kraton Surakarta Yasadipura ke dalam bahasa Jawa modern pada sekitar abad ke-18.
Dalam dunia sastra populer Indonesia, cerita Mahabharata juga disajikan melalui bentuk komik yang membuat cerita ini dikenal luas di kalangan awam. Salah satu yang terkenal adalah karya dari R.A. Kosasih. Pada era budaya populer khususnya di bidang pertelevisian, kisah Mahabharata ditayangkan oleh STAR Plus dan antv dengan judul Mahabharat.
Daftar kitab
Mahābhārata merupakan kisah epik yang terbagi menjadi delapan belas kitab atau sering disebut Astadasaparwa. Rangkaian kitab menceritakan kronologi peristiwa dalam kisah Mahābhārata, yakni semenjak kisah para leluhur Pandawa dan Korawa (Yayati, Yadu, Puru, Kuru, Duswanta, Sakuntala, Bharata) sampai kisah diterimanya Pandawa di surga.
Nama kitab
Keterangan
Kitab Adiparwa berisi berbagai cerita yang bernafaskan Hindu, seperti misalnya kisah pemutaran Mandaragiri, kisah Bagawan Dhomya yang menguji ketiga muridnya, kisah para leluhur Pandawa dan Korawa, kisah kelahiran Rsi Byasa, kisah masa kanak-kanak Pandawa dan Korawa, kisah tewasnya rakshasa Hidimba di tangan Bhimasena, dan kisah Arjuna mendapatkan Dropadi.
Kitab Sabhaparwa berisi kisah pertemuan Pandawa dan Korawa di sebuah balairung untuk main judi, atas rencana Duryodana. Karena usaha licik Sangkuni, permainan dimenangkan selama dua kali oleh Korawa sehingga sesuai perjanjian, Pandawa harus mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun dan setelah itu melalui masa penyamaran selama 1 tahun.
Kitab Wanaparwa berisi kisah Pandawa selama masa 12 tahun pengasingan diri di hutan. Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah Arjuna yang bertapa di gunung Himalaya untuk memperoleh senjata sakti. Kisah Arjuna tersebut menjadi bahan cerita Arjunawiwaha.
Kitab Wirataparwa berisi kisah masa satu tahun penyamaran Pandawa di Kerajaan Wirata setelah mengalami pengasingan selama 12 tahun. Yudistira menyamar sebagai ahli agama, Bhima sebagai juru masak, Arjuna sebagai guru tari, Nakula sebagai penjinak kuda, Sahadewa sebagai pengembala, dan Dropadi sebagai penata rias.
Kitab Udyogaparwa berisi kisah tentang persiapan perang keluarga Bharata (Bharatayuddha). Kresna yang bertindak sebagai juru damai gagal merundingkan perdamaian dengan Korawa. Pandawa dan Korawa mencari sekutu sebanyak-banyaknya di penjuru Bharatawarsha, dan hampir seluruh Kerajaan India Kuno terbagi menjadi dua kelompok.
Kitab Bhismaparwa merupakan kitab awal yang menceritakan tentang pertempuran di Kurukshetra. Dalam beberapa bagiannya terselip suatu percakapan suci antara Kresna dan Arjuna menjelang perang berlangsung. Percakapan tersebut dikenal sebagai kitab Bhagavad Gītā. Dalam kitab Bhismaparwa juga diceritakan gugurnya Resi Bhisma pada hari kesepuluh karena usaha Arjuna yang dibantu oleh Srikandi.
Kitab Dronaparwa menceritakan kisah pengangkatan Bagawan Drona sebagai panglima perang Korawa. Drona berusaha menangkap Yudistira, namun gagal. Drona gugur di medan perang karena dipenggal oleh Drestadyumna ketika ia sedang tertunduk lemas mendengar kabar yang menceritakan kematian anaknya, Aswatama. Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah gugurnya Abimanyu dan Gatotkaca.
Kitab Karnaparwa menceritakan kisah pengangkatan Karna sebagai panglima perang oleh Duryodana setelah gugurnya Bhisma, Drona, dan sekutunya yang lain. Dalam kitab tersebut diceritakan gugurnya Dursasana oleh Bhima. Salya menjadi kusir kereta Karna, kemudian terjadi pertengkaran antara mereka. Akhirnya, Karna gugur di tangan Arjuna dengan senjata Pasupati pada hari ke-17.
Kitab Salyaparwa berisi kisah pengangkatan Sang Salya sebagai panglima perang Korawa pada hari ke-18. Pada hari itu juga, Salya gugur di medan perang. Setelah ditinggal sekutu dan saudaranya, Duryodana menyesali perbuatannya dan hendak menghentikan pertikaian dengan para Pandawa. Hal itu menjadi ejekan para Pandawa sehingga Duryodana terpancing untuk berkelahi dengan Bhima. Dalam perkelahian tersebut, Duryodana gugur, tapi ia sempat mengangkat Aswatama sebagai panglima.
Kitab Sauptikaparwa berisi kisah pembalasan dendam Aswatama kepada tentara Pandawa. Pada malam hari, ia bersama Kripa dan Kertawarma menyusup ke dalam kemah pasukan Pandawa dan membunuh banyak orang, kecuali para Pandawa. Setelah itu ia melarikan diri ke pertapaan Byasa. Keesokan harinya ia disusul oleh Pandawa dan terjadi perkelahian antara Aswatama dengan Arjuna. Byasa dan Kresna dapat menyelesaikan permasalahan itu. Akhirnya Aswatama menyesali perbuatannya dan menjadi pertapa.
Kitab Striparwa berisi kisah ratap tangis kaum wanita yang ditinggal oleh suami mereka di medan pertempuran. Yudistira menyelenggarakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka yang gugur dan mempersembahkan air suci kepada leluhur. Pada hari itu pula Dewi Kunti menceritakan kelahiran Karna yang menjadi rahasia pribadinya.
Kitab Santiparwa berisi kisah pertikaian batin Yudistira karena telah membunuh saudara-saudaranya di medan pertempuran. Akhirnya ia diberi wejangan suci oleh Rsi Byasa dan Sri Kresna. Mereka menjelaskan rahasia dan tujuan ajaran Hindu agar Yudistira dapat melaksanakan kewajibannya sebagai Raja.
Kitab Anusasanaparwa berisi kisah penyerahan diri Yudistira kepada Resi Bhisma untuk menerima ajarannya. Bhisma mengajarkan tentang ajaran Dharma, Artha, aturan tentang berbagai upacara, kewajiban seorang Raja, dan sebagainya. Akhirnya, Bhisma meninggalkan dunia dengan tenang.
Kitab Aswamedhikaparwa berisi kisah pelaksanaan upacara Aswamedha oleh Raja Yudistira. Kitab tersebut juga menceritakan kisah pertempuran Arjuna dengan para Raja di dunia, kisah kelahiran Parikesit yang semula tewas dalam kandungan karena senjata sakti Aswatama, namun dihidupkan kembali oleh Sri Kresna.
Kitab Asramawasikaparwa berisi kisah kepergian Drestarastra, Gandari, Kunti, Widura, dan Sanjaya ke tengah hutan, untuk meninggalkan dunia ramai. Mereka menyerahkan tahta sepenuhnya kepada Yudistira. Akhirnya Resi Narada datang membawa kabar bahwa mereka telah pergi ke surga karena dibakar oleh api sucinya sendiri.
Kitab Mosalaparwa menceritakan kemusnahan bangsa Wresni. Sri Kresna meninggalkan kerajaannya lalu pergi ke tengah hutan. Arjuna mengunjungi Dwarawati dan mendapati bahwa kota tersebut telah kosong. Atas nasihat Rsi Byasa, Pandawa dan Dropadi menempuh hidup “sanyasin” atau mengasingkan diri dan meninggalkan dunia fana.
Kitab Mahaprastanikaparwa menceritakan kisah perjalanan Pandawa dan Dropadi ke puncak gunung Himalaya, sementara tahta kerajaan diserahkan kepada Parikesit, cucu Arjuna. Dalam pengembaraannya, Dropadi dan para Pandawa (kecuali Yudistira), meninggal dalam perjalanan.
Kitab Swargarohanaparwa menceritakan kisah Yudistira yang mencapai puncak gunung Himalaya dan dijemput untuk mencapai surga oleh Dewa Indra. Dalam perjalanannya, ia ditemani oleh seekor anjing yang sangat setia. Ia menolak masuk surga jika disuruh meninggalkan anjingnya sendirian. Si anjing menampakkan wujudnya yang sebenanrnya, yaitu Dewa Dharma.
Ringkasan cerita
Latar belakang
Mahabharata merupakan kisah kilas balik yang dituturkan oleh Resi Wesampayana untuk Maharaja Janamejaya yang gagal mengadakan upacara korban ular. Sesuai dengan permohonan Janamejaya, kisah tersebut merupakan kisah raja-raja besar yang berada di garis keturunan Maharaja Yayati, Bharata, dan Kuru, yang tak lain merupakan kakek moyang Maharaja Janamejaya. Kemudian Kuru menurunkan raja-raja Hastinapura yang menjadi tokoh utama Mahabharata. Mereka adalah Santanu, Chitrāngada, Wicitrawirya, Dretarastra, Pandu, Yudistira, Parikesit dan Janamejaya.
Para Raja India Kuno
Mahabharata banyak memunculkan nama raja-raja besar pada zaman India Kuno seperti Bharata, Kuru, Parikesit (Parikshita), dan Janamejaya. Mahabharata merupakan kisah besar keturunan Bharata, dan Bharata adalah salah satu raja yang menurunkan tokoh-tokoh utama dalam Mahabharata.
Kisah Sang Bharata diawali dengan pertemuan Raja Duswanta dengan Sakuntala. Raja Duswanta adalah seorang raja besar dari Chandrawangsa keturunan Yayati, menikahi Sakuntala dari pertapaan Bagawan Kanwa, kemudian menurunkan Sang Bharata, raja legendaris. Sang Bharata lalu menaklukkan daratan India Kuno. Setelah ditaklukkan, wilayah kekuasaanya disebut Bharatawarsha yang berarti wilayah kekuasaan Maharaja Bharata (konon meliputi Asia Selatan)[2].
Sang Bharata menurunkan Sang Hasti, yang kemudian mendirikan sebuah pusat pemerintahan bernama Hastinapura. Sang Hasti menurunkan Para Raja Hastinapura. Dari keluarga tersebut, lahirlah Sang Kuru, yang menguasai dan menyucikan sebuah daerah luas yang disebut Kurukshetra (terletak di negara bagian Haryana, India Utara). Sang Kuru menurunkan Dinasti Kuru atau Wangsa Kaurawa. Dalam Dinasti tersebut, lahirlah Pratipa, yang menjadi ayah Prabu Santanu, leluhur Pandawa dan Korawa.
Kerabat Wangsa Kaurawa (Dinasti Kuru) adalah Wangsa Yadawa, karena kedua Wangsa tersebut berasal dari leluhur yang sama, yakni Maharaja Yayati, seorang kesatria dari Wangsa Chandra atau Dinasti Soma, keturunan Sang Pururawa. Dalam silsilah Wangsa Yadawa, lahirlah Prabu Basudewa, Raja di Kerajaan Surasena, yang kemudian berputera Sang Kresna, yang mendirikan Kerajaan Dwaraka. Sang Kresna dari Wangsa Yadawa bersaudara sepupu dengan Pandawa dan Korawa dari Wangsa Kaurawa.
Prabu Santanu dan keturunannya
Prabu Santanu adalah seorang raja mahsyur dari garis keturunan Sang Kuru, berasal dari Hastinapura. Ia menikah dengan Dewi Gangga yang dikutuk agar turun ke dunia, namun Dewi Gangga meninggalkannya karena Sang Prabu melanggar janji pernikahan. Hubungan Sang Prabu dengan Dewi Gangga sempat membuahkan anak yang diberi nama Dewabrata atau Bisma. Setelah ditinggal Dewi Gangga, akhirnya Prabu Santanu menjadi duda.
Beberapa tahun kemudian, Prabu Santanu melanjutkan kehidupan berumah tangga dengan menikahi Dewi Satyawati, puteri nelayan. Dari hubungannya, Sang Prabu berputera Sang Citrānggada dan Wicitrawirya. Citrānggada wafat di usia muda dalam suatu pertempuran, kemudian ia digantikan oleh adiknya yaitu Wicitrawirya. Wicitrawirya juga wafat di usia muda dan belum sempat memiliki keturunan. Atas bantuan Resi Byasa, kedua istri Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika, melahirkan masing-masing seorang putera, nama mereka Pandu (dari Ambalika) dan Dretarastra (dari Ambika).
Dretarastra terlahir buta, maka tahta Hastinapura diserahkan kepada Pandu, adiknya. Pandu menikahi Kunti kemudian Pandu menikah untuk yang kedua kalinya dengan Madrim, namun akibat kesalahan Pandu pada saat memanah seekor kijang yang sedang kasmaran, maka kijang tersebut mengeluarkan (Supata=Kutukan) bahwa Pandu tidak akan merasakan lagi hubungan suami istri, dan bila dilakukannya, maka Pandu akan mengalami ajal. Kijang tersebut kemudian mati dengan berubah menjadi wujud aslinya yaitu seorang pendeta.
Kemudian karena mengalami kejadian buruk seperti itu, Pandu lalu mengajak kedua istrinya untuk bermohon kepada Hyang Maha Kuasa agar dapat diberikan anak. Lalu Batara guru mengirimkan Batara Dharma untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahir anak yang pertama yaitu Yudistira Kemudian Batara Guru mengutus Batara Indra untuk membuahi Dewi Kunti shingga lahirlah Harjuna, lalu Batara Bayu dikirim juga untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahirlah Bima, dan yang terakhir, Batara Aswin dikirimkan untuk membuahi Dewi Madrim, dan lahirlah Nakula dan Sadewa.
Kelima putera Pandu tersebut dikenal sebagai Pandawa. Dretarastra yang buta menikahi Gandari, dan memiliki seratus orang putera dan seorang puteri yang dikenal dengan istilah Korawa. Pandu dan Dretarastra memiliki saudara bungsu bernama Widura. Widura memiliki seorang anak bernama Sanjaya, yang memiliki mata batin agar mampu melihat masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.
Keluarga Dretarastra, Pandu, dan Widura membangun jalan cerita Mahabharata.
Pandawa dan Korawa
Pandawa dan Korawa merupakan dua kelompok dengan sifat yang berbeda namun berasal dari leluhur yang sama, yakni Kuru dan Bharata. Korawa (khususnya Duryodana) bersifat licik dan selalu iri hati dengan kelebihan Pandawa, sedangkan Pandawa bersifat tenang dan selalu bersabar ketika ditindas oleh sepupu mereka. Ayah para Korawa, yaitu Dretarastra, sangat menyayangi putera-puteranya. Hal itu membuat ia sering dihasut oleh iparnya yaitu Sangkuni, beserta putera kesayangannya yaitu Duryodana, agar mau mengizinkannya melakukan rencana jahat menyingkirkan para Pandawa.
Pada suatu ketika, Duryodana mengundang Kunti dan para Pandawa untuk liburan. Di sana mereka menginap di sebuah rumah yang sudah disediakan oleh Duryodana. Pada malam hari, rumah itu dibakar. Namun para Pandawa diselamatkan oleh Bima sehingga mereka tidak terbakar hidup-hidup dalam rumah tersebut. Usai menyelamatkan diri, Pandawa dan Kunti masuk hutan. Di hutan tersebut Bima bertemu dengan rakshasa Hidimba dan membunuhnya, lalu menikahi adiknya, yaitu rakshasi Hidimbi. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Gatotkaca.
Setelah melewati hutan rimba, Pandawa melewati Kerajaan Panchala. Di sana tersiar kabar bahwa Raja Drupada menyelenggarakan sayembara memperebutkan Dewi Dropadi. Karna mengikuti sayembara tersebut, tetapi ditolak oleh Dropadi. Pandawa pun turut serta menghadiri sayembara itu, namun mereka berpakaian seperti kaum brahmana.
Pandawa ikut sayembara untuk memenangkan lima macam sayembara, Yudistira untuk memenangkan sayembara filsafat dan tatanegara, Arjuna untuk memenangkan sayembara senjata Panah, Bima memenangkan sayembara Gada dan Nakula - Sadewa untuk memenangkan sayembara senjata Pedang. Pandawa berhasil melakukannya dengan baik untuk memenangkan sayembara.
Dropadi harus menerima Pandawa sebagai suami-suaminya karena sesuai janjinya siapa yang dapat memenangkan sayembara yang dibuatnya itu akan jadi suaminya walau menyimpang dari keinginannya yaitu sebenarnya yang diinginkan hanya seorang Satriya.
Setelah itu perkelahian terjadi karena para hadirin menggerutu sebab kaum brahmana tidak selayaknya mengikuti sayembara. Pandawa berkelahi kemudian meloloskan diri. sesampainya di rumah, mereka berkata kepada ibunya bahwa mereka datang membawa hasil meminta-minta. Ibu mereka pun menyuruh agar hasil tersebut dibagi rata untuk seluruh saudaranya. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa anak-anaknya tidak hanya membawa hasil meminta-minta, namun juga seorang wanita. Tak pelak lagi, Dropadi menikahi kelima Pandawa.
Permainan dadu
Agar tidak terjadi pertempuran sengit, Kerajaan Kuru dibagi dua untuk dibagi kepada Pandawa dan Korawa. Korawa memerintah Kerajaan Kuru induk (pusat) dengan ibukota Hastinapura, sementara Pandawa memerintah Kerajaan Kurujanggala dengan ibukota Indraprastha. Baik Hastinapura maupun Indraprastha memiliki istana megah, dan di sanalah Duryodana tercebur ke dalam kolam yang ia kira sebagai lantai, sehingga dirinya menjadi bahan ejekan bagi Dropadi. Hal tersebut membuatnya bertambah marah kepada para Pandawa.
Untuk merebut kekayaan dan kerajaan Yudistira, Duryodana mengundang Yudistira untuk main dadu ini atas ide Sangkuni, hal ini dilakukan sebenarnya untuk menipu Pandawa mengundang Yudistira untuk main dadu dengan taruhan. Yudistira yang gemar main dadu tidak menolak undangan tersebut dan bersedia datang ke Hastinapura.
Pada saat permainan dadu, Duryodana diwakili oleh Sangkuni sebagai bandar dadu yang memiliki kesaktian untuk berbuat curang. Permulaan permainan taruhan senjata perang, taruhan pemainan terus meningkat menjadi taruhan harta kerajaan, selanjutnya prajurit dipertaruhkan, dan sampai pada puncak permainan Kerajaan menjadi taruhan, Pandawa kalah habislah semua harta dan kerajaan Pandawa termasuk saudara juga dipertaruhkan dan yang terakhir istrinya Dropadi dijadikan taruhan.
Dalam peristiwa tersebut, karena Dropadi sudah menjadi milik Duryodana, pakaian Dropadi ditarik oleh Dursasana karena sudah menjadi harta Duryodana sejak Yudistira kalah main dadu, namun usaha tersebut tidak berhasil membuka pakaian Dropadi, karena setiap pakaian dibuka dibawah pakaian ada pakaian lagi begitu terus tak habisnya berkat pertolongan gaib dari Sri Kresna.
Karena istrinya dihina, Bima bersumpah akan membunuh Dursasana dan meminum darahnya kelak. Setelah mengucapkan sumpah tersebut, Dretarastra merasa bahwa malapetaka akan menimpa keturunannya, maka ia mengembalikan segala harta Yudistira yang dijadikan taruhan.
Duryodana yang merasa kecewa karena Dretarastra telah mengembalikan semua harta yang sebenarnya akan menjadi miliknya, menyelenggarakan permainan dadu untuk yang kedua kalinya. Kali ini, siapa yang kalah harus mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun, setelah itu hidup dalam masa penyamaran selama setahun, dan setelah itu berhak kembali lagi ke kerajaannya. Untuk yang kedua kalinya, Yudistira mengikuti permainan tersebut dan sekali lagi ia kalah. Karena kekalahan tersebut, Pandawa terpaksa meninggalkan kerajaan mereka selama 12 tahun dan hidup dalam masa penyamaran selama setahun.
Setelah masa pengasingan habis dan sesuai dengan perjanjian yang sah, Pandawa berhak untuk mengambil alih kembali kerajaan yang dipimpin Duryodana. Namun Duryodana bersifat jahat. Ia tidak mau menyerahkan kerajaan kepada Pandawa, walau seluas ujung jarum pun. Hal itu membuat kesabaran Pandawa habis. Misi damai dilakukan oleh Sri Kresna, namun berkali-kali gagal. Akhirnya, pertempuran tidak dapat dielakkan lagi.
Pertempuran di Kurukshetra
Pandawa berusaha mencari sekutu dan ia mendapat bantuan pasukan dari Kerajaan Kekaya, Kerajaan Matsya, Kerajaan Pandya, Kerajaan Chola, Kerajaan Kerala, Kerajaan Magadha, Wangsa Yadawa, Kerajaan Dwaraka, dan masih banyak lagi. Selain itu para ksatria besar di Bharatawarsha seperti misalnya Drupada, Satyaki, Drestadyumna, Srikandi, Wirata, dan lain-lain ikut memihak Pandawa. Sementara itu Duryodana meminta Bisma untuk memimpin pasukan Korawa sekaligus mengangkatnya sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa. Korawa dibantu oleh Resi Drona dan putranya Aswatama, kakak ipar para Korawa yaitu Jayadrata, serta guru Krepa, Kretawarma, Salya, Sudaksina, Burisrawas, Bahlika, Sangkuni, Karna, dan masih banyak lagi.
Pertempuran berlangsung selama 18 hari penuh. Dalam pertempuran itu, banyak ksatria yang gugur, seperti misalnya Abimanyu, Drona, Karna, Bisma, Gatotkaca, Irawan, Raja Wirata dan puteranya, Bhagadatta, Susharma, Sangkuni, dan masih banyak lagi. Selama 18 hari tersebut dipenuhi oleh pertumpahan darah dan pembantaian yang mengenaskan. Pada akhir hari kedelapan belas, hanya sepuluh ksatria yang bertahan hidup dari pertempuran, mereka adalah: Lima Pandawa, Yuyutsu, Satyaki, Aswatama, Krepa dan Kretawarma.
Penerus Wangsa Kuru
Setelah perang berakhir, Yudistira dinobatkan sebagai Raja Hastinapura. Setelah memerintah selama beberapa lama, ia menyerahkan tahta kepada cucu Arjuna, yaitu Parikesit. Kemudian, Yudistira bersama Pandawa dan Dropadi mendaki gunung Himalaya sebagai tujuan akhir perjalanan mereka. Di sana mereka meninggal dan mencapai surga. Parikesit memerintah Kerajaan Kuru dengan adil dan bijaksana. Ia menikahi Madrawati dan memiliki putera bernama Janamejaya. Janamejaya menikahi Wapushtama (Bhamustiman) dan memiliki putera bernama Satanika. Satanika berputera Aswamedhadatta. Aswamedhadatta dan keturunannya kemudian memimpin Kerajaan Wangsa Kuru di Hastinapura.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS