RSS

HASIL PENELITIAN SOSIOLINGUISTIK

PEMAKAIAN BAHASA KOMUNITAS PEDAGANG PASAR LOAK DI ADIWERNA KABUPATEN TEGAL
Oleh    : Prety Lailani Rizki


PENDAHULUAN

      Bahasa adalah salah satu ciri yang paling khas manusiawi yang membedakannya dari makhluk-makhluk yang lain.  Ada dua aspek yang mendasar dalam pengertian masyarakat. Yang pertama ialah bahwa anggota-anggota suatu masyarakat hidup dan berusaha bersama secara berkelompok-kelompok. Aspek yang kedua ialah bahwa anggota-anggota dan kelompok-kelompok masyarakat ini dapat hidup bersama karena ada suatu perangkat hukum dan adat kebiasaan yang mengatur kegiatan dan tindak-laku mereka, termasuk tindak-laku berbahasa. (Nababan 1984: 1-2).
   Dalam setiap komunikasi-bahasa ada dua pihak yang terlibat, yaitu pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receiver). Ujaran (berupa kalimat atau kalimat-kalimat) yang digunakan untuk menyampaikan pesan (berupa gagasan, pikiran, saran, dan sebagainya) itu disebut pesan.  (Chaer : 2010: 20). Sebagai gejala sosial, bahasa dan  pemakaian bahasa tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor linguistik tetapi juga oleh faktor-faktor nonlinguistik, antara lain adalah faktor-faktor sosial. Faktor-faktor sosial yang mempengaruhi pemakaian bahasa misalnya status sosial, tingkat pendidikan, umur, tingkat ekonomi, jenis kelamin dan sebagainya. Di samping itu pemakaian bahasa juga dipengaruhi oleh faktor-faktor situasional, yaitu siapa berbicara dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, di mana dan mengenai masalah apa (Fishman dalam Suwito 1985: 3).
  Pasar merupakan sesuatu yang sulit dipisahkan dalam kehidupan sehari- hari. Karena pasar adalah salah satu tempat untuk memenuhi kebutuhan hidup, dimana proses jual-beli biasa terjadi. Namun tidak semua orang dapat dengan yakin membedakan jenis-jenis pasar. Kebanyakan orang hanya mengetahui pasar secara umum, yakni pasar tradisional dan pasar modern. Padahal bukan hanya itu saja melainkan masih banyak jenis pasar yang lainnya.  Pasar loak adalah jenis pasar yang berisi lapak orang yang ingin menjual/barter berbagai barang mulai dari barang berkualitas rendah sampai barang berkualitas tinggi dengan potongan harga atau barang bekas pakai. Dalam sejarahnya pada sebuah pasar loak selalu dilekatkan sebuah stigma sebagai tempat transaksi ekonomi kelas bawah, miskin, seret serta kepepet uang. Dan dalam pengertian lain, juga berfungsi hampir  serupa dengan tempat pengadaian. Di pasar loak  diperjual belikan barang-barang bekas layak pakai, baik itu milik sendiri maupun barang curian. Di pasar loak Adiwerna, barang-barang yang dijual diantaranya, barang-barang elektronik bekas seperti TV, radio, HP, speaker, VCD dan juga menjual barang bekas seperti piranti untuk kendaraan sepeda dan motor.
   Masyarakat tutur bahasa Jawa di daerah Adiwerna kabupaten Tegal, kekhasan bahasa yang digunakan adalah bahasa ngapak dialek Tegalan. Di Adiwerna sendiri ada beberapa etnik yaitu ada etnik Jawa dan etnik Cina. Namun, didominasi oleh etnik Jawa sendiri yang mata pencaharian sebagian besar adalah pedagang. Komunitas pedagang merupakan salah satu komunitas yang lazim ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Anggota kelompok ini adalah mereka yang bermata pencaharian sebagai pedagang. Keseharian komunitas pedagang yang berlatar belakang etnik Jawa di Pasar Loak Adiwerna diisi dengan jual beli sekaligus bersosialisasi dengan sesama pedagang.
    Peneliti mengambil penelitian bagaimana penggunaan bahasa jual beli di Pasar Loak Adiwerna Kabupaten Tegal sebagai kajian sosiolinguistik, karena terdapat variasi bahasa.
        Peneliti ini, bertujuan mengetahui ragam bahasa jua beli di Pasar Loak Adiwerna Kabupaten Tegal.

KAJIAN TEORI

      Fishman (1976:28) menyebut “masyarakat tutur adalah suatu masyarakat yang anggota-anggotanya setidak-tidaknya mengenal satu variasi bahasa beserta norma-norma yang sesuai dengan penggunaannya”. Kata masyarakat dalam istilah masyarakat tutur bersifat relatif, dapat menyangkut masyarakat yang sangat luas, dan dapat pula hanya menyangkut sekelompok kecil orang.
          Dengan pengertian terhadap kata masyarakat seperti itu, maka setiap kelompok orang yang karena tempat atau daerahnya, profesinya, hobinya, dan sebagainya, menggunakan bentuk bahasa yang sama, serta mempunyai penilaian yang sama terhadap norma-norma pemakaian bahasa itu, mungkin membentuk suatu masyarakat tutur.
    Yang dimaksud dengan peristiwa tutur (Inggris: speech event) adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi lingustik dalam satu bentuk ujaran atau mlebih yang  melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, tempat, dan situasi tertentu. Jadi, interaksi yang berlangsung antara seorang pedagang dan pembeli di pasar pada waktu tertentu dengan  menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya adalah sebuah peristiwa tutur.
       Variasi atau ragam bahasa terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa.  Variasi bahasa yang pertama berdasarkan penuturnya adalah variasi bahasa yang disebut idiolek. Menurut konsep idiolek, setiap orang mempunyai variasi bahasanya atau idioleknya masing-masing.
       Variasi bahasa kedua berdasarkan penuturnya adalah yang disebut dialek, yakni bahasa dari sekolompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat, wilayah, atau area tertentu.
         Variasi ketiga berdasarkan penutur adalah disebut kronolek atau dialek temporal, yakni variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu.
        Variasi bahasa yang keempat berdasarkan penuturnya adalah apa yang disebut sosiolek atau dialek sosial, yakni variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya. Perbedaan pekerjaan, profesi jabatan, atau tugas para penutur dapat juga menyebabkan adanya variasi sosial. Perbedaan variasi bahasa mereka terutama tampak pada bidang kosakata yang mereka gunakan.
     Sehubungan dengan variasi bahasa berkenaan dengan tingkat, golongan, status, dan kelas sosial para penuturnya, biasanya dikemukakan orang variasi bahasa yang disebut akrolek, basilek, vulgar, slang, kolokial, jargon, argot, dan ken. Kolokial adalah variasi sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kolokial berartu bahasa percakapan, bukan bahasa tulis.
1). Wujud tuturan  penjual dan pembeli
 Menurut Kridalaksana (2008:  248) tuturan dapat diartikan wacana yang menonjolkan rangkaian peristiwa dalam serentetan waktu tertentu, bersama dengan partisipan dan keadaan tertentu. Sedangkan wujud, diartikan sebagai bentuk. Wujud tuturan penjual dan pembeli diartikan bentuk ujaran penjual dan pembeli.    
a). Penjual dan pembeli dominan menggunakan  bahasa  Jawa
b). Penjual dan pembeli dominan menggunakan bahasa Indonesia 
2). Pola Interaksi Penjual dan Pembeli
Suharsono, (2003: 5-7) menyatakan bahwa faktor-faktor yang bersifat sosial, misalnya yang berhubungan dengan diferensiasi kerja, tujuan interaksi, dan hubungan peranan di antara penjual dan pembeli, mempengaruhi pola interaksi jual beli, yang pada akhirnya mempengaruhi pula wujud dan bentuk tuturan. Mengenai model interaksi antara penjual dan pembeli dapat diihat dari lima segi, yaitu: (a). Sifat organisasi, (b). Tujuan interaksi, (c). Sifat hubungan, (d). Harga.
 Model interaksi antara penjual dan pembeli memiliki ciri-ciri berikut: (a). Memberi peluang pertukaran kata bersifat goal oriented, tetapi juga untuk mengembangkan hubungan interpersonal, (b). Hubungan bersifat interpersonal, tidak temporer, (c). Tawar menawar merupakan bagian tidak terpisahkan dalam interaksi   penjual dan pembeli. (d). Masing-masing pelaku dalam interaksi mengembangkan persuasi  verbal.

METODOLOGI PENELITIAN
Metode-metode yang diambil dari sosiolinguistik adalah metode yang dipergunakan dalam mempelajari masalah-masalah yang diambil dari kedua disiplin yang bersangkutan, yaitu sosiologi dan linguistik. Metode-metode linguistik dipergunakan untuk memerikan (deskripsi) bentuk-bentuk bahasa serta unsur-unsurnya yang ditemukan atau diperoleh. Cara-cara mengumpulkan data dari lapangan (masyarakat) kebanyakan diambil dari ilmu sosiologi, khususnya yang berhubungan dengan pengamatan (observasi) dan pengumpulan data dengan kuesioner dan wawancara. Dalam penelitian ini, menggunakan teknik survey, wawancara, dan merekam.
       Tempat pengambilan data ini yaitu di sekitar daerah Adiwerna, tepatnya di pasar Loak di sepanjang pinggir jalan. Pasar Loak ini beroperasi setiap hari setiap sekitar pukul 09.00 sampai 12.00 siang.
Data dalam penelitian ini berbentuk tuturan yang diperoleh dari peristiwa tutur antara penjual dan pembeli dalam peristiwa komunikasi jual beli di Pasar Loak Adiwerna, Kabupaten Tegal yang sungguh-sungguh terdapat dalam masyarakat bahasa. Bahasa merupakan objek penelitian dan pemakaian bahasa (penjual dan pembeli) menjadi subjek dalam penelitian ini.
Sumber data berupa tuturan penjual dan pembeli, yang melakukan transaksi jual beli di Pasar Loak Adiwerna, Kabupaten Tegal yang dilakukan pada bulan Juni 2015.
           a.    Tahap Penyediaan Data
              Penyediaan data merupakan upaya peneliti menyediakan data secukupnya. Data di sini dimengerti sebagai fenomena lingual khusus yang mengandung dan berkaitan langsung dengan masalah yang dimaksud.
Dalam tahap penyediaan data, sekurang-kurangnya melalui tiga tahapan kegiatan, yaitu: 1) mengumpulkan yang ditandai dengan pencatatan, 2) pemilihan dan pemilah-milah dengan membuang yang tidak perlu, 3) pendataan menurut tipe atau jenis terhadap apa yang telah di catat, dipilih dan dipilah-pilahkan itu (Sudaryanto, 1993: 11)   
Pada tahap penyediaan data digunakan metode simak, yaitu cara yang digunakaan untuk memperoleh data dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa, dengan menggunakan teknik sadap sebagai teknik dasarnya. Sebagai teknik lanjutannya menggunakan teknik Simak Bebas Libat Cakap (SBLC ) bahwa peneliti terlibat dalam dialog, konversasi atau timbal wicara. Jadi, ikut serta dalam proses pembicaraan orang yang saling berbicara, dan menggunakan teknik rekam memakai hand phone (HP) sebagai alatnya. Kemudian semua rekaman yang telah diperoleh ditrankripsi secara fonemis diteruskan dengan klasifikasi data sebagai langkah akhir tahap penyediaan data.
          b.     Tahap Analisis Data
Menurut Sudaryanto (1993, 21:26) metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik tehnik pilihan unsur penentu (PUP). 
Sesuai dengan jenis penentu yang akan dipisah-pisahkan  dibagi menjadi berbagai  unsur  itu maka daya  pilah itu dapat disebut daya pilah referensial, daya pilah otografi dan daya pilah pragmatik  yang disesuaikan dengan sifat  atau watak unsur penentu  itu masing  - masing.
          c.     Tahap Penyajian Hasil Analisis
Tahap ini merupakan upaya peneliti menampilkan dalam bentuk laporan tertulis mengenai apa yang telah dihasilkan dari kerja analisis, khususnya kaidah. Mengenai cara metode penyajian kaidah tersebut sebagai hasil analisis disajikan penulis menggunakan metode penyajian informal. Metode penyajian informal adalah perumusan dengan kata-kata biasa (a natural language) (Sudaryanto, 1993:  144).  

PEMBAHASAN

Wujud Tuturan Penjual dan Pembeli di Pasar Loak Adiwerna Kabupaten Tegal 

                                              Peristiwa tutur Bakul TV:

Pembeli           : “apa kuwe?”
Penjual             : “oalah, barang dibuka-buka langsung travone gedhe nemen yakin..”
Pembeli           : “pirang ampere?”
Penjual             : “loro kurang selawe, mantep nemen esih asline, travone kiye langsung garo tivine.. limang ampere..”
Pembeli           : “khusus kuwe? speaker?? Toa??”
Penjual             : “speaker mbuapa la kuwe , pokoke enyong nang umah anggone tip”
Pembeli           : “pirang ampere?”
Penjual             : “buka bae wis buka tolin gampang oh.. esih asline neng kono..”
Pembeli           : “esih asline??”
Penjual             : “iya.. esih asline yakin”
Pembeli           : “olih kapan?”
Penjual             : “olih wingi lagi sore, olih sing tanggane aku”
Pembeli           : “mbokan olih sing wong njaba”
Keterangan      : Penjual (seorang bakul TV yang menawarkan barang dagangannya) dan pembeli (seorang pegawai BUMN yang menawar barang dagangan penjual). Peristiwa tutur tersebut menunjukkan bahwa wujud tuturan yang digunakan dalam peristiwa tawar-menawar barang TV menggunakan ragam ngoko dialek Tegal yang digunakan oleh penjual dan pembeli di pasar loak. Dalam peristiwa tutur tersebut, penjual dan pembeli menggunakan ragam ngoko dialek Tegalan karena bertujuan saling mengakrabi satu sama lain. Secara keseluruhan faktor-faktor yang mempengaruhi adanya bentuk-bentuk variasi ragam bahasa itu ada hubungannya dengan setting dan tujuan,  atau tempat dan suasana, yaitu pasar loak, sebuah pasar yang dikunjungi banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat. Ada masyarakat pelajar, pegawai, buruh, petani, pedagang, dan sebagainya.  Adapun suasana di pasar loak adalah santai sehingga variasi ragam bahasa yang digunakan oleh penjual dan pembeli pun beragam santai pula.

Wujud Register Jual Beli Pasar Loak di Adiwerna Kabupaten Tegal

Peristiwa tutur Bakul TV:

Pembeli           : “apa kuwe?”
Penjual            : “oalah, barang dibuka-buka langsung travone gedhe nemen yakin..”
Pembeli           : “pirang ampere?”
Penjual            : “loro kurang selawe, mantep nemen esih asline, travone kiye langsung garo tivine.. limang ampere..”
Pembeli           : “khusus kuwe? speaker?? Toa??”
Penjual            : “speaker mbuapa la kuwe , pokoke enyong nang umah anggone tip”
Pembeli           : “pirang ampere?”
Penjual            : “buka bae wis buka tolin gampang oh.. esih asline neng kono..”
Pembeli           : “esih asline??”
Penjual            : “iya.. esih asline yakin”
Pembeli           : “olih kapan?”
Penjual            : “olih wingi lagi sore, olih sing tanggane aku”
Pembeli           : “mbokan olih sing wong njaba”
Keterangan      : Penjual (seorang bakul TV yang menawarkan barang dagangannya) dan pembeli (seorang pegawai BUMN yang menawar barang dagangan penjual). Dalam percakapan tersebut menunjukkan bahwa pembeli menggunakan bahasa Jawa ragam ngoko dialek Tegal dengan si penjual. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkatan status sosial dan perkerjaan/profesi tidak ada perbedaan atau sejajar (pembeli dan penjual) dalam hal tawar menawar TV. Oleh karena itu, hubungan antara penjual dan pembeli sudah biasa menggunakan ragam ngoko di sekitar pasar loak yang notabene penjualnya lebih sering menggunakan ragam ngoko daripada karma ataupun bahasa Indonesia dalam komunikasinya.
Register yang digunakan dalam klausa loro kurang selawe (dua kurang dua puluh lima) menunjukkan makna telulikur (dua puluh tiga). Di daerah Tegal, dalam peristiwa jual-beli atau tawar menawar antara penjual dan pembeli menggunakan bahasa tersebut dalam komunikasinya.

PENUTUP

  Berdasarkan penelitian Ragam Bahasa Jual Beli di Pasar Loak Adiwerna Kabupaten Tegal dapat disimpulkan sebagai berikut :
     1.     Wujud tuturan yang digunakan oleh komunitas pedagang di pasar loak antara penjual dan pembeli menggunakan bahasa ngoko dialek Tegalan, karena berdasarkan konteks dan suasana, setting dan tempat yaitu pasar loak. Bahasa yang digunakan dalam suasana di pasar loak adalah santai sehingga variasi ragam bahasa yang digunakan oleh penjual dan pembeli pun beragam santai pula.
     2.     Wujud register yang digunakan dalam percakapan antara penjual dan pembeli menggunakan bahasa Jawa dialek Tegalan. Dalam percakapan antara penjual loakan dan pembeli (pegawai) menunjukkan tidak adanya perbedaan status sosial dan perbedaan profesi. Register yang digunakan dalam tawar menawar tersebut hanya diketahui oleh masyarakat tutur daerah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2010. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta
Nababan, P.W.J. 1984. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Gramedia
Suwito. 1985. Sosiolinguistik Pengantar Awal, Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta. Surakarta: Henary Offset Solo
http://lanangj.blogspot.com/2012/02/skripsi-ragambahasa-transaksi-jual-beli.html, diakses pada tanggal 26 Juni 2015
https://id.wikipedia.org/wiki/Pasar_loak, diakses pada tanggal 26 Juni 2015
http://www.kompasiana.com/juanfrans77/tren-pasar-loak_550e51f5813311ba2dbc6219, diakses pada tanggal 26 Juni 2015


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

RESUME BUKU

Resume Buku

BAB 7
Teknik Pengumpulan Data

Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas data hasil penelitian, yaitu, kualitas instrumen penelitian, dan kualitas pengumpulan data.
Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara. Dilihat dari setting, data dapat dikumpulkan pada setting alamiah (natural setting), laboratorium dengan metode eksperimen, di rumah dengan responden, pada seminar, diskusi, di jalan dan lain-lain. Dilihat dari sumber datanya, pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer dan sumber sekunder. Dilihat dari cara atau teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan interview (wawancara), kuesioner (angket), observasi (pengamatan) dan gabungan ketiganya.
Pada bab ini akan dikemukakan berdasarkan teknik pengumpulan data melalui wawancara, angket (kuesioner), dan observasi.
          A.   Interview (Wawancara)
Sutrisno Hadi (1986) mengemukakan bahwa anggapan yang perlu dipegang oleh peneliti dalam menggunakan metode interview dan juga angket (kuesioner) adalah sebagai berikut.
1.      Bahwa subyek (responden) adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri
2.      Bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya
3.      Bahwa interpretasi subyek tentan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksudkan oleh peneliti.
Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun menggunakan telepon.
            1.      Wawancara Terstruktur
Wawancara struktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Dalam melakukan wawancara, pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawaban pun telah disiapkan.
Dalam melakukan wawancara, selain harus membawa instrumen sebagai pedoman untuk wawancara, maka pengumpul data juga menggunakan alat bantu seperti tape recorder, gambar, brosur dan material lain yang dapat membantu pelaksanaan wawancara menjadi lancar.
Berikut contoh wawancara terstruktur, tentang tanggapan masyarakat terhadap berbagai pelayanan pemerintah Kabupaten tertentu yang diberikan kepada masyarakat.
Bagaimanakah tanggapan Bapak/Ibu terhadap pelayanan pendidikan di Kabupaten ini?
a.       Sangat bagus
b.      Bagus
c.       Tidak bagus
d.      Sangat tidak bagus
            2.      Wawancara Tidak Terstruktur
Merupakan wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.
Contoh :
Bagaimana pendapat Bapak/Ibu terhadap kebijakan pemerintah terhadap Perguruan Tinggi Berbadan Hukum? Dan bagaimana peluang masyarakat miskin dalam memperoleh pendidikan tinggi yang bermutu?

Untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam tentang responden, maka peneliti dapat juga menggunakan wawancara tidak terstruktur. Dalam wawancara tidak terstrukur, peneliti belum mengetahui secara pasti data apa yang akan diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang diceritakan oleh responden.
Bila responden yang akan diwawancarai telah ditentukan orangnya, maka sebaiknya sebelum melakukan wawancara, pewawancara minta waktu terlebih dulu, kapan dan di mana bisa melakukan wawancara.
Informasi atau data yang diperoleh sering bias. Bias adalah menyimpang dari yang seharusnya, sehingga dapat dinyatakan dat tersebut subyektif dan tidak akurat. Kebiasaan data ini akan tergantung pada pewawancara, yang diwawancarai (responden) dan situasi & kondisi pada saat wawancara.
          B.   Kuesioner (Angket)
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
Uma Sekaran (1992) mengemukakan beberapa prinsip dalam penulisan angket sebagai teknik pengumpulan data yaitu : prinsip penulisan, pengukuran dan penampilan fisik.
1.      Prinsip Penulisan Angket :
Menyangkut beberarapa faktor yaitu sebagai berikut.
a.       Isi dan tujuan Pertanyaan
Dalam membuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan disusun dalam skala pengukuran dan jumlah itemnya mencukupi untuk mengukur variabel yang diteliti.
b.      Bahasa yang digunakan
Bahasa yang digunakan disesuaikan dengan kemampuan responden.
c.       Tipe dan Bentuk Pertanyaan
Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka atau tertutup.
d.      Pertanyaan tidak mendua
Setiap pertanyaan dalam angket jangan mendua sehingga menyulitkan untuk memberikan jawaban.
e.       Tidak menanyakan yang sudah lupa
Setiap pertanyaan dalam instrumen angket, sebaiknya tidak menanyakan hal-hal yang sekiranya responden sudah lupa.
f.       Pertanyaan yang menggiring
Pertanyaan dalam angket sebaiknya tidak menggiring ke jawaban yang baik saja atau ke yang jelek saja.
g.      Panjang Pertanyaan
Pertanyaan dalam angket sebaiknya tidak terlalu panjang, sehingga akan membuat jenuh responden dalam mengisi. Disaranakan empirik jumlah pertanyaan yang memadai antara 20 s/d 30 pertanyaan.
h.      Urutan Pertanyaan
Urutan pertanyaan dalam angket, dimulai dari yang umum menuju ke hal yang spesifik, atau dari yang mudah menuju ke hal yang sulit, atau diacak.
i.        Prinsip Pengukuran
Supaya diperoleh data penelitian yang valid dan reliabel, maka sebelum instrumen angket tersebut diberikan kepada responden, maka perlu diuji validitas dan reliabilitasnya terlebih dahuli.
j.        Penampilan Fisik Angket
Penampilan fisik angket sebagai alat pengumpul data akan mempengaruhi respon atau keseriusan responden dalam mengisi angket.
        C.   Observasi
Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik lain, yaitu wawancara dan kuesioner.
Sutrisno Hadi (1986) mengemukakan bahwa observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai biologis dan psikologis.
Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila, penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.
1.      Observasi Berperanserta (Participant observation)
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data, dan ikut merasakan dukanya. Dengan observasi partisipan, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang Nampak.
2.      Observasi Nonpartisipan
Dalam observasi nonpartisipan peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen. Pengumpulan data dengan observasi nonpartisipan ini tidak akan mendapatkan data yang mendalam dan tidak sampai pada tingkat makna.
a.      Observasi Terstrukur
Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan di mana tempatnya. Pedoman wawancara terstruktur,  atau angket tertutup dapat juga digunakan sebagai pedoman untuk melakukan observasi.
b.      Observasi Tidak Terstruktur
Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tetap hanya berupa rambu-rambu pengamatan. Peneliti dapat melakukan pengamatan bebas, mencatat apa yang tertarik, melakukan analisis dan kemudian dibuat kesimpulan.

Daftar Pustaka :
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tata Krama

TATA KRAMA

Tembung tata krama iku kedadean saka rong tembung yaiku tembung tata lan tembung krama . Miturut Baoesastra Jawa karangan WJS Poerwadarminta tegese tembung tata lan krama iku mangkene :

Tegese tembung Tata =
1. Beciking pangetrap (pasang rakit),
2. Becik pangetrape , mawa aturan sing becik,

Tegese tembung Krama =
1. (kawi) pratingkah, patrap.
2. (kawi) tata pranata kang becik, suba-sita.
3. (kawi) watak, sipat.
4. (krama ngoko) tembung pakurmatan (ing unggah-ungguhing basa).
5. (krama inggil ) laki – rabi.
6. (kawi) bojo.
Tembung camboran sing nganggo tembung krama antarane :
Kaum krama = wong cilik.
Ngapus krama = ngapusi sarana alus.
Nyangga krama = ngepenaki rembug.
Ngungkak krama = nerak tatanan.
Dikramani = dibasani (dijak guneman nganggo tembung krama ).
Dikramakake = 1. ditembungake krama 2. (krama inggil) diomah-omahake , dirabekake, dilakekake.

Dadi tembung tata krama iku tegese yaiku patrap utawa pratingkah kang becik pangetrape.

Ing Serat Nayakawara anggitan KGPAA Mangkunagara IV diterangake ing tembang Dhandhanggula.

Werdingkang wasita jinarwi,
wruhing kukum iku watakira,
adoh marang kanisthane,
pamicara puniku,
weh reseping sagung miyarsi,
tata-krama punika,
ngedohken panyendhu,
kagunan iku kinarya,
ngupa boga dene kalakuwan becik,
weh rahayuning angga.



Saben bangsa nduweni tata krama dhewe, tata kramane wong Jepang, Eropah beda karo tata kramane wong Jawa. Samono uga tata-krama kang lumaku dhek jaman biyen beda karo jaman saiki . kang perlu digatekake , yaiku : yen kita pinuju ana ing kalangan liya kang nduweni tata- krama dhewe, kita sing bisa nglarasake dhiri marang swasana ing kono mau. Kudu eling marang tujuwane njunjung tata krama kang maksude : memayu ayuning pasrawungan. Adat pakulinan kang alus, tingkah laku kang becik, bisa nglarasake marang kahanan , klebu sawijining pranatan pasrawungan sadina-dina.
Bisa nyingkiri tekane pasulayan utawa rasa pangrasa kang bisa njalari seriking atine liyan. Miturut tembang ing dhuwur tata krama iku ngedohken panyendhu, lire bisa nyingkiri anane pasulayan utawa salah tampa. Dhuwuring drajade bangsa bisa katitik saka alusing tata kramane.
Mula wis aran wajib, yen para wong tuwa lan para pamong kajabaning paring tuntunan lan kapinteran marang para putra lan para muride , uga anggulawenthah bab kasusilan lan paring tetuladhan ing bab tata krama
Tumrap bocah-bocah, para siswa lan para putra semono uga, saliyane sengkud ngudi undhaking kawruh lan kapinteran , aja nganti nglirwakake tata krama.

Ana ngendi bae tata krama mau ditrapake ?
Pangetrape tata krama antara liya :

1. Nalika tetepungan karo mitra anyar
2. Nalika cecaturan.
3. Nalika mara dhayoh.
4. Nalika kedhayohan.
5. Nalika ana ing dalan
6. Tata cara manganggo
7. Nalika dhahar lan liya-liyane.


Ing ngendi-endi panggonan salagine isih sesrawungan kang liyan panganggone tata krama iki ora kena kari.
Tata krama ing basa Indonesia utawa cara Mlayu diarani sopan santun.
Elinga : tata krama iku busananing bangsa.


AJINE KAWRUH SRAWUNGAN


Kita urip ing alam donya iki mbutuhake srawung karo liyan. Awit siji lan sijine kudu sesambungan: gethok tular, tulung tinulung, sambat-sinambat. Wiwit jaman kuna – makuna , uripe manungsa pancen wis padha sesrawungan lan gegrombolan. Kejaba ta ana wong kang arep urip ora kaya salumrahe, arep menjila, mertapa, utawa urip ijen ana ing tengahing alas, ora mikir sandhang pangan lan keperluwan , --- bisa uga wong kang kaya mangkono mau ora mbutuhake marang pasrawungan.
Nanging tumrape umum, kang urip ing bebrayan, kang mangku bale omah, kang sesambungan lan kulawarga, --- gelem ora gelem , kudu sesrawungan karo liyan. Wiwit nindakake pegaweyan kanggo kebutuhan dhewe ing sajroning omah ing sajabaning omah, nganti pegaweyan ing kantor , pasar, plabuhan, pabrik, tegal sawah, lsp. Kita mesthi mbutuhake srawungan lan tenagane liyan.
Malah-malah tumrape wong kang arep anggayuh kemajuwan ing laladan pegaweyane, bab sesrawungan iku kudu digatekake banget. Disinau kanthi temen-temen supaya mangerti marang wadi-wadi , nuli ditindakake kanthi becik, murih bisane karahayon saka enggone pinter sesrawungan , sokur bage bisa antuk kauntungan.
Manut panitipriksane Lembaga Carnegie, nyata yen asile gegayuhane wong ing laladan pegaweyane iku : 15% saka kawruhe vak, yaiku kawruhe kang ditindakake , dene kang 85% saka enggone pinter sesrawungan karo liyan, luwih-luwih karo wong kang gegayutan karo pegaweyane.
Samono pentinge kawruh bab sesrawungan utawa pergaulan. Nanging nalikane kita isih bocah isih sekolah biyen ora nate oleh wulangan kasebut. Mengkono uga ing kapustakan kita, para leluhur kita ora ninggali kitab wewarah ngelmu srawungan kang kena kita enggo tuntuna urip ing sajroning alam rame iki. Ing Wedhatama mung ana tinemu pepindhan, kepriye tunane (rugine) wong kang kidhung (kaku) ing bab sesrawungan kang amarga kurang sesurupane . sanadyan tuwa pisan , nanging yen ora ngerti marang ubeng ingering jaman, yekti sepi asepa lir sepah samun, samangsane pakumpulan, gonyak-ganyuk nglelingsemi. Mangkon kasebut ing Wedhatama.
Dadi wong kurang kawruhe, yen srawungan karo wong akeh, sikepe gonyak-ganyuk ngisin-isini. Utawa cara tembunge kang lumrah : lingak-linguk kaya kethek ditulup.
Mula saka iku , kawruh sesrawungan utawa pergaulan iku sajatine perlu banget kita udi. Awit yen kita kasil bisa nindakake kanthi becik, bisa narik perhatian lan sympatiene (sengseme) wong kang kita ajak srawungan, bakal bisa nekakake karahayon tumrap kita, lan iya bisa nekakake kauntungan lan kabegjan tumrap pegaweyan utawa perusahaan kita.

NGLAIRAKE RASA PANGRASANING ATI


Wong Jawa iku enggone semu. Tetembungan iku iku wis kaprah keprungu ing kalanganing bebrayan Jawa. Nanging kanthi majuning jaman kaya-kaya tetembungan iku mau saiki mung kari dongeng wae. Wong-wong Jawa ing bebrayan Jawa sing saiki wis akeh sing kanthi blak-blakan, wis ora sungkan –sungkan gelem nglairake rasaning atine. Sanajana mangkono isih akeh sedulur-sedulur Jawa sing isih ngugemi tetembungan ing dhuwur mau.
Ing ngisor iki ana crita : Ana sawijining wanita numpak sepur karo nggendhong anake sing isih bayek, lagi nangis kepiyer. Ora oleh lungguhan. Ing sacedhake kono ana kursi kang dilungguhi nom-noman. Wis suwe wanita mau anggone mbudidaya supaya bayine gelem meneng. Nanging tetep ora gelem meneng.
Geneya si biyung ora gelem nglairake rasaning atine ? Geneya ora nembung marang wong-wong kang lungguh ing cedhake, upamane : “Menapa kepareng kula ndherek lenggah sakedhap kemawon, supados anak kula boten kepepet-pepet ?”
“Menawi dhangan ing penggalih mugi kersaa maringaken lenggahan sakedhap kemawon. Mangke menawi anak kula sampun kendel nangis, panjenengan kula aturi pinarak malih.”
Wis dadi adat pakulinan kita : lumuh nglairake rasaning ati. Marga isin, sungkan sumelang yen ora ditanggapi, kuwatir yen malah nandhang wirang.
Pancen mangkono, rasaning ati kang ngandhut kauntungan tumrap kita dhewe,. kita lumuh nglairake. Rasaning ati kang ngemu keperluwan kita dhewe, kang bisa menehi kauntungan marang kita, manut kasusilan, pancen kurang prayoga kita lairake. Kajaba yen kepeksa.
Balik rasaning ati kang bisa gawe senenge liyan, sanyatane prayoga kita lairake. Rasaning ati kang ora njalari kapitunaning liyan malah perlu kita lairake sarana tetembungan.


Upamane mangkene : sedulur nampa paweweh saka tepungan wujud barang (bakal klambi, sepatu lsp) apa awujud panganan, apa liyane (buku-buku). Sedulur mesthine seneng lan nduweni rasa “terima kasih “ Rasaning ati kaya mangkono mau kudu dilairake sarana tetembungan : Matur nuwun, kesuwun, sakalangkung nuwun, utawa liyane maneh.
Yen rasane ati mau ora dilairake, wong sing weweh ora ngerti kepriye mungguh panampane kang diwenehi barang. Ana kalane rasaning ati mau ora dilairake sarana tetembungan, nanging sarana sasmita bae, upamane : mesem, apa manrhuk-manthuk. Sing weweh iya wis ngerti, nanging kang mangkono mau kurang netepi kasusilaning pasrawungan.
Kang becik iku, lairna rasaning ati kanthi tetembungan kang cukup kehe, becik iketane, resep rungone, --- murih bisa gawe senenge atine liyan.
Cekaking atur yen kita kepengin nglungguhi kasusilan , pokoke ngudia kanthi sabarang tindak-tanduk lan muna muni bisane gawe senenging atine liyan. 

AMEMANGUN KARYENAK TYASING SASAMA

Sanyatane skabehing wong iku tresna marang awake dhewe. Malah saka tresnane, nganti kebacut ora gelem (wegah) ngakoni kaluputane dhewe, suwalike sing disenengi utawa sing diarep-arep mung tekane pangalembana tumrap dhirine.
Wong kang rupak kawruhe :seneng diugung. Nanging ugung lan pangalembana iku ana bedane. Ugung utawa umpak mathuke pancen kanggo wong kang cupet kawruhe, awit pangrasane wong kang ngumpak utawa ngugung mau : nyata-nyata temenan muji dheweke.
Wong kang jembar sesurupane , wis mesthi ora seneng diugung utawa diumpak , ewasamono bareng dialembana dheweke seneng, rumangsa yen nyata pancen wis sapantese dheweke nampa pangalembana mau.
Kita perlu mangerteni bedane ngugung, ngumpak lan ngalembana. Mula saka iku gegaran kanggo sesrawungan kang premati yaiku wewaton “sapa bae seneng nampa pangalem” kaya kang kasebut ing Wedhatama “amemangun karyenak tyasing sasama”, lire agawe enake atine wong liya.
Pepenginane utawa pangarep-arepe wong marang pangalembana utawa pangaji-aji (penghargaan) iku kaya dene wong kang ngorong nalika kepanasan. Mula yen ana wong kang menehi “banyu” dheweke banjur seneng lan gembira banget. Nanging kang luwih bisa seneng lan pamareme wong mau , yen paweweh arupa pangaji-aji mau diwenehake kanthi eklas, jujur, ora mung kanti ethok-ethok bae.
Kita kudu entheng memuji marang kabecikan utawa kaluwihane wong liya, aja wigah-wigih nglairake kabungahan kita marang asile pegaweyane wong liya. Kita kudu bisa ngatonanke rasa-pangrasa melu gembira, melu bungah marang apa kang ndadekake kabungahaning liyan.
Kawuningana, derenge manungsa enggone kepingin antuk pangaji-aji iku , yen ora kaleksanan bisa gawe angles lan putheking pamikire. Yen ora kabeneran, sisib sembire bisa gawe ngengleng , malah-malah sing kebacut bisa owah pikire.
Mula saka iku, penting banget kita meruhi wadine wewatakane siji-sijine wong, murih bisane kita bergaul, bisa mranani atine, bisa gawe legane atine, kang satemah kita dhewe kang bakal nemahi kauntungan , dene banjur sugih mitra lan ora ana kang ngrintangi marang tujuwan kita. Prasasat ora ana kang mungsuhi, nanging kabeh dadi mitra kang samapta mbiyantu.
Dadi wose , kita kudu ngerti dhisik , yen saben wong iku seneng marang pangaji-aji utawa penghargaan . nanging aja nganti kliru marang pangumpak lan pangugung .



MANJING AJUR-AJER


Tembung ajur ajer iku mono tegese kang sanyatane : bisa nandukake patrap agal lan alus, kang laras karo kang disrawungi. Kang diarani wong kang bisa manjing ajur-ajer, lire wong kang pinter anggone sesrawungan bisa campur karo golongan rupa-rupa, bisa kekumpulan karo kaum krama , nanging iya ora kidhung yen nuju ana ing pasamuwan para golongan dhedhuwuran. Bisa lelawanan rembug karo kaum tuwa utawa golongan pinisepuh, nanging iya ora kaku yen nuju sesrawungan karo golongan nom-noman utawa kaum liyane kang wis dudu sababage.
Bisa manjing ajur-ajer tujuwane bisaa dadi wong kang sugih mitra, kang disenengi wong liyan, kang bisa gawe resepe atine sapa bae satemah kita dhewe bakal luwih seneng urip kita lan luwih gampang anggone golek kemajuwan.
Sesrawungan utawa pergaulan ing jaman saiki, wis ora misah-misahake antarane kaum wanita lan kaum priya. Mula saka iku , wajib kita kaum wanita lan kaum priya padha mangerti kepriye cara-carane bergaul manut sopan – santun, lan mangerti uga sepira gedhening paedahe sesrawungan kang ora ngliwati watesing kasusilan.
Saiba enak kepenaking rasane ati kita, yen ana ing sajroning pasrawungan kita bisa nglarasake marang swasana ing kono. Yen nuju bergaul karo wong tuwa, bisa nanggapi rembuge, bisa ngempakake lan ngerti marang unggah-ungguh. Saiba sreg lan enake rasa pangrasa kita, yen sajroning pergaulan, kita oleh panganggep saka wong akeh, yen kita bisa manjing ajur – ajer, bisa gawe resep marang sok uwonga, bisa nyenengake wong kang lelawanan rembug utawa lelawanan pegaweyan karo kita.
Ing jaman kuna, para leluhur kita wis ndarbeni ngelmu bisane wong manjing ajur – ajer . Saiki kita ngudi bisane ndarbeni pakulinan lan patrap ajur-ajer, ora nedya dianggo nindakake pakaryan kang sasar, nanging saperlu kanggo pawitan anggayuh kemajuwan.
Manjing ajur – ajer minangka tuntunan bisaa kanggo sanguning urip kita ngambah laladan kabegjan, kang bisa aweh paedah tumrap dhiri kita lan uga tumrap bebrayan.

Tegese tembung :
manjing = 1. kw. mlebu, lumebu 2. wis mlebu (ora kena dicopot, diilangi) , rumasuk 3.wis klebu dadi ..... 4. ngrasuk ing (agama)
ajur = 1. remuk 2. luluh ajer (ana ing barang cuwer) 3. rusak babar pisan
agal = 1. ora lembut 2. kasar, wadhag.
kaum krama = wong cilik, buruh.
pasamuwan = 1. paklumpukaning wong-wong sawetara 2. pista mangan enak 3. kumpulan sarasehan 4. gegolonganing wong-wong tunggal agama (protestan)
sababage = sabarakane, tandhing (mungguhing gedhene, umur-umurane.)
satemah = wekasane tundhone.
iba = mendah
resep = 1. njalari seneng (kepenak) marang pandeleng (pangrungu) 2. suker, nggarap banyu
rumesep = mlebu ambles tumrap barang cuwer.
darbe = duwe
pawitan = dhuwit kang dianakake (dianggo bebakulan lsp)
laladan = tlatah, wewengkon.



WONG JAWA ENGGONE SEMU

Manut kapustakan Jawa, jare wong Jawa iku enggoning semu. Tegese enggone semu : gampang ngertine marang pasemoning liyan, sanadyan ta ora dikandhani utawa dipituturi apa kang lagi dikandhut ing atine (karepe) liyan, wis bisa ngerteni. Bisa krasa.
Upamane, nalika kita mara dhayoh marang tepungan kita, tanpa kabar luwih dhisik. Nalika kita teka ing omahe kono, wong kang duwe omah nuju dandan apik. Iku, kita kudu wis mangerteni yen kang duwe omah mau arep lunga, embuh menyang endi. Yen mangkono si dhayoh banjur kudu duwe rasa pangrasa dhewe, yen ora kena ngganggu kamardikane sing duwe omah mau. Yaiku kita kudu kaniyatan kita maradhayoh utawa sanajan lungguh, iya mung saperlune bae. Kaya mangkono tuladhane wong ngerti ing semu.
Weruh wong ulate padhang , bisa ngerti yen wongmau nuju nemahi kabungahan. Kepethuk wong lagi suntrut, ngerti yen lagi nandhang susah, dadi iya aja diajak sesembranan.
Apa pangalembana “Jawa enggone semu” iku nganti saiki tumindak kanthi becik?
Terus terang bae, yen kita wani mawas dhiri, saiki ora angger wong kena diparabi mengkono mau. Tandha yektine, ing masyarakat saiki ora kurang-kurang pangresulane wong-wong kang bekah-bekuh dene ketanggor wong kang ora weruh ing panarima, kang mblubud, kang ngapusi, kang rai gedheg, kang slura-sluru, lan sapanunggalane.
Sawijining ibu mentas bae menehi pitulungan derma marang nom-noman kang jare perlu banget kanggo kabutuhaning uripe. Bareng wis dipitulungi, ndadak nom-noman mau ora nganggo kandha “terima kasih” ora barang.
Pengalaman nalika lelungan menyang Jakarta numpak sepur, ana sawijining setasiun ana penumpang anyar, yaiku wong wadon kang nggendhong anake isih bayi ora oleh papan lungguh , marga nalika samono penumpange pancen kebak banget. Hawane panas, si bayi mau nangis, marga saka kepepet lan saka suk-sukan.
Ing sandhinge ibu kang nggendhong bayi mau, ana priya papat kang lungguh ing bangku. Saka pangirane mengko rak salah siji saka wong papat mau bakal gelem menehi papan lungguh marang wanita mau, supaya anake ora rewel, tur iya pantes banget ngiras ngajeni wanita. Nanging kabeh priya mau mung kandheg mangerti thok bae, ora tumindak tetulung.
Ing wulang tata-krama kang becik, sabisa-bisa kita nulung marang wong kang kasusahan, kang ringkih lan kang mbutuhake pitulungan. Nanging prakteke ing saiki : arang kang tinemu kang mangkono mau.
Mula saka iku, yen pancen kita nyata kita enggone semu, becike semune wong liya mau ora mung dingerteni bae, nanging ditanggapi, murih bisa laras karo lakuning kasusilan. Gek apa perlune kita ngerti marang semu, nanging ora nuduhake kawigaten kita? Apa paedahe ngerti marang rasaning atine liyan, nanging mung meneng lan nonton bae, ora aweh pitulungan, apese nuduhake perhatian?
Padha miwitana nindakake apa kang kacetha becik, lan kang laras marang tata krama kita. Supaya sebutan “Wong Jawa enggone semu” mau ora mung kandheg ana ing tetembungan bae, ora mung kandheg ana ing umpak-umpakan bae, nanging tumindak, ana ing praktek, maedahi marang bebrayan.
Kajaba iku iya banjur bisa ngangkat drajading kasusilaning bangsa.



TATA KRAMANE BOCAH MARANG GURU


Ana ing pamulangan, bocah-bocah saliyane diwulang kawruh liya-liya, becike iya diperdi bab tata krama . Upamane nalika teka mlebu sekolah ngadhep gurune , dilelatih matur : “Sugeng enjing, wilujeng enjing, sugeng sonten” lan sapanunggalane, apese iya manthuk tandha aweh hurmat.
Nalika kasep mlebu kelas, kamangka wulangan wis lumaku kudu matur:”Nyuwun pangapunten, kula kasep jalaran jawah “.upamane. Ora kena mbludhus bae mlebu kelas terus lungguh bangkune.
Nalikane nuju arep metu saka kelas marga arep menyang pakiwan, uapamane , ora kena ndadak metu mbludhus bae, nanging matur gurune dhisik: “Bu Guru, keparenga kula badhe dhateng wingking.”
Yen sesuke arep ora mlebu, iya pamit. Dene yen ana keperluan dadakan nganti ora kober nyuwun pamit luwih dhidik, ing dina sesuke nalika mlebu maneh, enggal matur apa sebabe dene wingi ora mlebu.
Ana guru kang nggresah, jare saiki iki, bocah-bocah angel wulang-wulangane bab tata krama. Kudune mung arep mbantah bae, awit kira-kira bae padha nduweni panemu yen tata krama iku kudu dibuwang marga tinggalane kaum feodal.
Ana uga kang ngira, yen tindak tanduk kang sarwa alus iku dianggep tindake wong kang jirih. Kosok baline, tindak tanduk kang kasar dianggep patrape wong kang kendel.
Bocah-bocah kang susila, ora ateges bocah kang jirih lan ora nduweni greget maju, nanging bocah kang bisa aweh pakurmatan marang sapa bae kang pantes dihurmati. Wedi sabarang tindak kang klebu larangan lan kang mitunani wong liya. Wani ngakoni kaluputane dhewe, nanging iya wani ngandhemi bebener lan tekade kang wis dadi keyakinane.
Murid kang sopan lan ngerti marang tata krama iku :
1. Yen kepapag gurune ana ing dalan, ora bakal mlayu ngenthar, nyingkiri. Balik malah sareh mapagake sarta asung kurmat kanthi manthuk.
2. Yen ketemu gurune ana ing toko utawa panggonan liya, ora ndadak ndhelik amping-ampingan wong liya, nanging panggah tenang kaya ora ana sapa-sapa. Yen gurune mriksani , malah banjur asung kurmat.
3. Yen ana sajrone kelas, arep nyuwun pirsa wulangan, ora ndadak enggone ngaturi sarana suwat-suwit utawa tangane ngetheki kaya yen ngundang pitik kae. Nanging sarana ngacungake tangane sarta matur :” kepareng nyuwun pirsa”.
Bocah-bocah iku ing tembe kang dadi kekembanganing bangsa. Iya nom-noman kang saiki iki kang bakal gumanti para sepuh enggone mbanjurake dadi panuntune bangsa. Mula saka iku , bocah-bocah kudu nduweni rasa-pangrasa marang ajining dhiri, ajining bangsa, kudu nggegulang tata-krama kang laras karo jamane.
Aja gampang kelud marang adat pakulinan manca (luar negeri) kang ora mesthi mathuk marang tata cara kabangsan kita.
Bocah-bocah kita becike padha nduweni semboyan :” Putraning bangsa kudu ngerti tata krama”.
Aja dumeh wis dadi wong gedhe mardika banjur ora gelem nindakake suba sita lan unggah – ungguh marang wong tuwa lan gurune.
Aja dumeh pemudha wis nate labuh bangsa, banjur ora perlu ngurmati sapadha-padha.
Aja dumeh wis rumangsa pinter banjur rumangsa kudu diajeni, nanging lumuh ngajeni.
Aja dumeh duwe pangkat dhuwur , banjur lali marang kamardikaning liyan lan ora ngurmati wewenanging liyan.
Lire : Para murid, kajaba sregep ngundhakake kawruh,. supaya pinter ing bab wulangan, wasis ing bab kagunan , uga wajib ngerti marang tata-krama. Srawunge bocah-bocah kudu cedhak karo gurune nanging aja ninggalake tata krama lan suba sita. Ora kena matur marang gurune mung nganggo basa ngoko bae, kaya caturan karo kancane dhewe.


TATA KRAMANE BOCAH MARANG WONG TUWA.


Bangsa kang wis padha dhuwur kabudayane, ora mung wong-wonge kang wus diwasa bae kang padha ngenggoni tata krama, dalah bocah-bocahe iya padha ngerti marang subasita.
Bocah-bocah ing omah lan ing pamulangan kudu diperdi marang tata krama , supaya ing tembene ora kidhung (kaku) lan bisa ngerti marang sopan santun.
Bapa biyung iya kudu merdi supaya wewatakan lan budine bocah dadi luhur, marga alusing tata kramane. Saranane ora liya , wong tuwa kudu menehi tuladha sarana pakarti , yaiku nglakoni dhewe, kejabane iku kudu tansah tlaten menehi wulangan lesan.
Nalikane bebarengan mangan karo wong tuwa , bocah-bocah dituladhani kepriye carane mangan kang mawa tata krama. Nalikane bocah-bocah dolanan karo kanca-kancane, nalikane diajak maradhayoh, kudu tansah diperdi murih ngerti marang tata krama kang becik.
Upamane nalikane diwenehi apa-apa dening wong tuwane kudu diwulangi aweh panarima, klawan matur : “Matur sembah nuwun” apa “ terima kasih”. Luwih-luwih yen kang menehi iku mau wong liya, si bocah aja nganti lali nelakake atur panuwune.
Yen pamit mulih , bocah iya diwulangi carane wong pamitan.
Tata krama, kang ditindakake wong tuwa ing sadina-dina becik diwulangake marang bocah-bocah baka sethithik, supaya bisa kulina, satemah ing besuke banjur manjing dadi pakulinane dhewe.
Yen bocah arep mangkat sekolah, becike diwajibake pamit :
“Bu, kula badhe bidhal”
“Mbah, keng wayah nyuwun pamit mangkat sekolah “
Samono uga sawise mulih, becike iya kudu matur, apese ngetok marang wong tuwa.
Mangkono yen lelungan menyang pasar utawa dolan menyang omahe kancane , kudu dikulinakake pamit dhisik, supaya ngerti marang pranatan, sarta iya ora bakal gawe bingunge sing ana ngomah.
Bocah-bocah kudu dingertekake nganti manjing dadai pakulinane, yen :
1. Wong memisuh iku ala, ora patut ditindakake dening bocah-bocah kang sopan.
2. Wong menganggo ora dibenikake iku kurang apik, ora patut tumrape bocah-bocah kang ngerti tata krama.
3. Bocah adus tanpa patelesan bebarengan karo wong akeh, karo wong akeh iku saru, ora pantes ditindakake dening bocah-bocah sekolahan.
4. Wong mbebuwang ing papan kang katon dideleng wong liya iku ora sopan, ora pantes ditindakake dening bocah kang susila.
5. Wong kang gawe geger ing pasamuwan utawa tontonan iku klebu ora apik, ora pantes ditindakake bocah-bocah pengajaran.


SAPA KANG WAJIB KITA AJENI ?

Pitutur bab tata krama deneng para luhur mung diparingake sarana lesan sarta tetuladhan sadina – dina turun –tumurun . Para putra wayahe ora ana sing nyatheti ngenti dadi kepek, mung sakehing pitutur lan larangan dicathet ing sajroning ati, sarta banjur diturunake marang putra wayahe dhewe-dhewe. Kaya mangkono run – tumurun ing kalangane bangsa kita.
Mung bae sapa kang wajib kita sembah (hurmati) wis pathokane kang tinulis , kasebut ing buku “Wulangreh” karangane Ingkang Sinuhun Paku Buwana IV tembange Maskumambang, mangkene:
Ana uga etang-etangane kaki, lelima sinembah sawiji-wiji, sembah lelima punika.
Ingkang dhingin rama ibu kaping kalih, marang mara tuwa, lanang wadon kang kaping tri , ya marang sedulur tuwa.
Kaping marang guru sayekti, sembah kaping lima, marang ing gustinireki, parincine kawruhana.
Dadi manut para sepuh biyen , kang wajib kita hurmati, ana lima , yaiku :
1. Wong tuwa lanang lan wong tuwa wadon
2. Mara tuwa sakarone.
3. Sadulur-sadulur tuwa.
4. Guru
5. Panggedhe.
Wis mesthi bae, pak-lik, bulik, pak dhe, budhe (uwa) eyang, buyut, sapiturute kalebu golongan wong tuwa mau, dene mitra tetepungan kang umure luwih tuwa iya patut kita ajeni, kayadene marang sedulur tuwa.
Bapa biyung rama ibu wajib kita hurmati, marga iku kang minangka lantarane lair ing alam donya. Gusti Allah enggone nitahake manungsa lumantar bapa biyung, apa dene rak ya wong tuwa kita mau kang mrihatinake nalikane si anak isih ana kandhutan, kang ngupakara si anak wiwit, lair tumekane diwasa.
Guru – kalebu guru agama – perlu dihurmati marga kang dadi lantaran kita golek kawruh lan ngangsu ngelmu, minangka gegaman kanggo nyambut gawe golek pangupajiwa lan dedalan sanguning pati.
Kasebut ing Wulangreh, kang wajib sinembah kang nomer lima, iku : gusti. Karepe ratu lan para panggedhe liyane. Awit nalika jaman samana, dhapukane paprentahan isih sacara krajan. Balik saiki : ora . ing jaman demokrasi wis ora ngarepi tatanan paprentahan krajan, wis mesthi bae dudu ratu kang dikarepake , nanging panggedhe kang ngasta pusaraning praja, kang ngreksa kawibawaning nagara.
Panindake tata krama ing jaman saiki wis mesthi karo jaman krajan. Ing jaman saiki wis ora perlu laku dhodhok, sembah jongkok , utawa nglesod nalika ngadhep marang panggedhe. Tata krama perlu dilarasake karo ajuning jaman .
Wanita sing kodrate luwih ringkih katimbang priya perlu entuk pakurmatan. Kepriye carane ngurmati wanita ? Ing antarane : tumrap sabarang kang nyenengake wanita didhisikake, nanging tumrap sabarang kang makewuhi wanita dikerekake, contone :
Ing pasamuwan, wanita diacarani lan dilenggahake dhisik
Nalika antri karcis kudu sing priya sing melu antri, aja nganti sing wanita antri karcis dene sing priya mung nunggu bae.
Nalika blanja, ora pantes yen sing putri nggegawa nganti mbentoyot dene sing kakung mung nglenthung bae.
Nanging ing jaman demokrasi , iya aran luput yen wong-wong banjur ora ngarepi tata krama. Mung nedya tumindak sakarepe dhewe, tanpa suba sita lan tanpa ngelingi unggah-ungguh lan tata susila.
Bangsa ngendi bae, tansah ngupakara murih tata krama bisane laras karo kahananing jaman, awit padha mangerti yen tata krama iku busananing bangsa.



PATRAP UTAWA TINDAK TANDUK KANG SOPAN


Patrap utawa carane wong enggone ngadeg, lungguh, caturan (guneman), mlaku bisa dadi titikan , kepriye mungguh jiwa lan pribadine wong mau.
Yen wong kesinungan jiwa luhur lan kapercayan diri pribadi , sikepe anggone ngadeg, lungguh, caturan,mlaku lan liya-liyane, mesthi beda karo sikepe wong clingus, kang ora nduweni kapercayan , lan kang kurang kaprawirane.
Dhek biyen, yen kita caturan (matur) karo wong kang kita kurmati, swara kudu lirih, nganti meh ora keprungu. Awit manut panganggep nalika samana, wong matur sarana swara kang saya lirih, dianggep saya sopan, saya netepi tata-krama.
Nanging saiki, ngadeg jejeg lan matur (caturan) sarana swara terang, cetha trawaca, tatag titis gampang dipirengake, iku dudu patrap kang kasar. Malah nuwuhake rasa simpati lan bisa ngunggar disiplin ing sajroning sanubari kita dhewe.
Kang dikarepake sikep kang tegak, jejeg, ing kene ora kok patrap kang njekengkeng kaku kaya reca, nanging sok dikantheni solah bawa kang ngresepake.
Badan kang jejeg mratandhani dununge jiwa lan pribadi kang santosa.
Yen panjenengan nuju lenggah ing pasamuwan utawa ana ing kantor, mangka ana wong kang teka marani ngethungake salam, panjenengan kudu menyat ngadeg saka kursi: nampani salame wong mau.
Yen nuju nonton wayang wong, bioskup utawa tontonan liyane, aja cecaturan seru-seru kang nganti ngganggu kasenengane liyan. Elinga yen wong-wong liya kang padha nonton iku padha ngematake apa kang dideleng lan kang dirungokake.
Yen nalika lungguh ing kursi kang jejer-jejer, mangka ana wong mentas teka liwat, panjenengan aja kabotan menehi dalan sarana narik mundur sikil panjenengan. Suwalike , yen panjenengan dhewe kang liwat, ngliwati sangarepe wong-wong kang wis lungguh dhisik, olehe mlaku kudu ngarah-arah aja nganti ngidak sikil, apadene ora ana alane karo kandha :”nuwun sewu”.
Sadurunge lungguh, becike ditliti temenan dhisik, apa kursi kang arep dilungguhi iku pancen nyata dadi hake. Supaya aja nganti kleru. Awit yen nganti kleru, dudu hake dilungguhi, mengko yen dipindhah, mundhak ngisin-isini.
Nonton tontonan sarana bengok-bengok utawa suwit-suwit, klebu pratingkah kang ora sopan.
Lungguh ing restoran, ora kena migatekake banget-banget (mandeng, ndeleng suwe) marang wong-wong liyane kang ana kono.
Lungguh ing gerbong, tram, kudu ngelingi kabutuhane penumpang liyane. Dadi panggonan lungguh kanggo wong loro aja diijeni utawa dienggo ndokok barang.
Wong kang sedhela-sedhela menyat saka papane lungguh ing papan umum, wira-wiri, sedhela-sedhela tolah-toleh ngiwa nengen utawa memburi, bisa gawe ora senenge atine liyan.
Mula saka iku, ing ngendi bae, kita kudu njaga sikep lan tindak-tanduk kita, supaya aja nganti gawe seriking liyan, aja ngganggu kasenengan utawa kamardikaning liyan.
Kudu tepa selira.


TATA KRAMA , ING NGENDI DITINDAKAKE ?


Tata krama iku ora mung katindakake yen pinuju lelawanan (srawungan) karo wong liya bae, nadyan ing omahe dhewe iya perlu katindakake. Ana ing omahe dhewe kita kudu nindakake tata lan tertib, perlune kanggo tepa tuladha marang anak-anak kita lan kulawarga saisine omah.
Wong kang sopan, yen nuju numpak sepur, ora bakal lungguh jigang utawa ndheseg papan lungguh hake wong liya, dienggo ndokok barang gegawanane . Yen ana kantor, perlu memburi (turas) utawa menyang kamar mandi, sawise bar keperluwane , iya banjur gelem nyiram (ngresiki) kaya yen nalikane mlebu ing kamar mandi utawa jambane dhewe.
Mengkono sikepe wong kang ngerti tata krama. Jiwane ora bakal ngideni nindakake patrap kang nyulayani marang budi luhure.
Aja dumeh sepur iku dudu duweke dhewe, olehe nganggo banjur sakepenake bae.

Aja dumeh kakus umum iku duweke kota praja lan kanggo keperluwane wong akeh , olehe nganggo banjur ora mikir marang kebersihane.
Aja dumeh meja kang dienggo nulis iku duweke kantor , olehe nganggo ora nate diresiki.
Aja dumeh nginep ing hotel lan wis rumangsa nyewa, olehe mbebuwang tegesan rokok ora didokok ing wadha awu, olehe idu sa-enggon-enggone.
Bab idu, yen ora perlu-perlu banget, aja idu. Yen ta kepeksa upamane amarga mambu ganda kang bacin, lagi katindakake. Samono mau kudu nyisih papan kang kiwa utawa migunakake kacu kanggo nutupi tutuk.
Ing ngendi bae, wayah apa bae, kita kudu nduwe pendhirian : tindak satindak , rembug sarembug kudu dijaga tata kramane. Aja duwe panemu yen tata krama mau kanggo sapa, ana pituwase apa ora, ana sing nliti apa ora, nanging duwea pendhirian yen : tata krama iku pirantine prikamanungsan.
Wewatone : aja gawe seriking liyan, aja ngganggu kasenenganing lan kamardikaning liyan sarana tindak tanduk , solah bawa lan rerembugan kang ora netepi tata krama . Yen kita ora seneng nemoni lelakon saka pratingkahe wong liya, kita aja nindakake apa-apa kang wis nate gawe gelaning ati kita mau.
Ing omah kita dhewe, sanajan ora ana pranatan tinulis, iya kudu duwe duga prayoga. Aja rame-rame nalikane tangga teparo wis turu. Aja ngunekake radio nganti dipolake bae ing wayahe tangga teparo ngaso, apa maneh apa maneh yen dheweke mau nuju gerah utawa kesripahan.

Wong kang ngerti tata krama, nalikane ana ing pasrawungan :
1. Ora bakal sisi. Yen kepeksa arep sisi, menyat metu dhisik, utawa saora-orane nyisih utawa mengo dhisik. Olehe sisi klawan migunakake kacu.
2. Ora bakal angop klawan ora nutupi tangan. Malah yen bisa , nyingkir dhisik sinamun ing samudana, supaya ora ngetarani.
3. Ora bakal ngureki irung nganggo drijine, utawa ngureki kuping nganggo cucuk –curek.
4. Ora bakal tudang-tuding , nudingi wong secedhake panggonane.
5. Ora bakal ngethoki utawa ngresiki kuku selagine jejagongan karo tamune.
6. Ora bakal lungguh karo sikil edheg utawa jigang ing sangarepe wong-wong kang durung ditepungi utawa wong kang pantes dihurmati.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS